Menariknya, Gibran Rakabuming Raka tidak menjadi cawapres dengan elektabilitas tertinggi. Berdasarkan survei, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) justru unggul sebagai cawapres dengan elektabilitas 23,9 persen.
Posisi berikutnya ditempati AHY dengan elektabilitas 13,8 persen, sementara Gibran Rakabuming memperoleh 13,7 persen. "Dengan elektabilitas yang signifikan, KDM dan AHY berpotensi menjadi kuda hitam dalam bursa cawapres Pilpres mendatang. Ini harus menjadi peringatan dini bagi Mas Gibran," ujar Fadhli.
Sejalan dengan popularitas dan elektabilitas Prabowo yang tinggi, Partai Gerindra juga mencatatkan elektabilitas tertinggi jika Pemilu Legislatif digelar saat ini. Gerindra meraih 30,5 persen, diikuti PDIP dengan 11,5 persen, dan PKS dengan 9,1 persen.
Fadhli menduga capaian elektabilitas Gerindra terkait erat dengan keberhasilan program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo, seperti MBG, KDKMP, dan CKG. "Elektabilitas Gerindra tidak bisa dipisahkan dari elektabilitas Prabowo. Bagi masyarakat, keberhasilan pemerintahan Prabowo adalah keberhasilan Gerindra. Di tingkat akar rumput, kader dan kekuatan partai menjadi penopang program-program Presiden Prabowo," tuturnya.
Survei Adidaya Institute dilakukan secara tatap muka (offline) pada 1-8 Mei 2026 dengan melibatkan 1.240 responden di 38 provinsi. Wawancara berlangsung sekitar 15 menit per responden.
Survei ini menggunakan metode probability sampling dengan margin of error 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Adidaya Institute menerapkan quality control ketat, termasuk upload foto dan share location via Google Maps untuk memastikan validitas data.
Artikel Terkait
Prof Ikrar Soroti Dubes Tak Dilibatkan dalam Diplomasi Luar Negeri Prabowo, Teddy Justru Ikut
Korupsi BGN: Pintu Masuk Prabowo Bersihkan Lingkaran Dalam dan Kroni
Skenario Paling Realistis Gibran-Bahlil Maju Pilpres 2029: Analisis Peluang dan Kekuatan Politik
Menteri ESDM Bahlil Minta Izin Panggil Presiden Prabowo Kakanda di Munas HIPMI