Saiful juga menambahkan, langkah "turun gunung" ini berpotensi memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat jika tidak disertai tujuan politik yang jelas. Publik kini lebih kritis dan tidak mudah diyakinkan dengan narasi normatif.
"Publik tidak lagi mudah diyakinkan dengan narasi normatif. Mereka menuntut kejelasan arah dan tujuan. Tanpa itu, setiap langkah politik akan selalu dibaca sebagai bagian dari agenda tersembunyi, bukan pengabdian murni," tegas Saiful.
Lebih lanjut, Saiful menekankan bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya citra pribadi Jokowi, tetapi juga standar etika politik pasca-kekuasaan di Indonesia. Seorang mantan presiden seharusnya mampu menunjukkan keteladanan dalam melepaskan kekuasaan secara elegan.
"Seorang mantan presiden seharusnya mampu menunjukkan keteladanan dalam melepaskan kekuasaan secara elegan, bukan justru terus berada di orbitnya tanpa kejelasan peran. Jika tidak, maka publik akan terus mempertanyakan ini tentang negara, atau sekadar perpanjangan pengaruh?" pungkas Saiful.
Artikel Terkait
Jokowi Diserang Warganet Usai Safari Politik demi Gibran dan Kaesang, Targetkan PSI Lolos Pemilu 2029
Safari Politik Jokowi ke Lampung: Strategi Joko Tingkir Satukan Kekuatan Adat dan Kerajaan
Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung: Sinyal PSI Siap Tantang Dominasi PDIP?
Jokowi Batal Hadiri Kirab Budaya di Lampung Timur karena Penolakan Panitia, Begini Kronologi Lengkapnya