"Status nonstruktural ini justru tepat dibaca oleh Anies. Ia memahami hasrat politik PGR menjelang Pilpres 2029. Karena Anies bukan milik segelintir orang di PGR, melainkan harus dimiliki lintas golongan," tegas Damai.
Damai mengingatkan, menjadikan Anies sebagai "kapal besar" semata bagi PGR justru berisiko. Jika hanya diusung partai pemula, raihan suara Anies berpotensi menjadi yang paling rendah apabila nanti terdapat tiga pasangan calon (antitesis Pilpres 2024).
Menurutnya, caleg-caleg pemula dan yang kekurangan modal cenderung bersifat parasit terhadap nama tokoh besar. Mereka memanfaatkan popularitas tokoh tersebut demi meraih kursi legislatif, namun pada akhirnya bisa beralih mendukung calon lain—termasuk incumbent atau kandidat dari lingkar kekuasaan—bukan tokoh yang membesarkan partai.
Agar tidak terlanjur "menempel" terlalu dini, Damai menyarankan Anies meminta komitmen tegas (membaiat) kepada para pemilik PGR dan partai-partai pemula lain yang memanfaatkan ketokohannya. Mereka harus konsisten dengan makna "Gerakan Rakyat" serta diisi oleh tokoh-tokoh yang dikenal publik karena fokus pada penegakan hukum, ekonomi, dan politik sesuai cita-cita UUD 1945.
"PGR atau partai mana pun tidak akan hebat di mata publik jika hanya mampu mendapatkan simpati Anies. Namun, PGR bisa diperhitungkan di kontestasi 2029 atau menjadi partai masa depan jika lobi politiknya berhasil menjadikan Anies sebagai capres yang diusung di antara tiga atau lima partai besar," tutup Damai.
Artikel Terkait
Mahfud MD Sebut Prabowo Antikritik Usai Jurnalis dan LSM Dibilang Londo Ireng
Purbaya Yudhi Sadewa Kandidat Kuat Gubernur BI Pengganti Perry Warjiyo
PDIP Santai Tanggapi Kaesang Maju Caleg 2029, Hasto: Politik Bukan Sekadar Jabatan
Habib Rizieq Kecam Mahfud MD: Bubarkan FPI Kini Sesali Hilangnya Amar Maruf Nahi Mungkar