“So far selain Golkar dan PKS, memang sistem partai sangat terbuka, siapa saja boleh jadi ketua umum, siapa saja boleh jadi presiden partai,” ujarnya.
Menurutnya, partai yang didirikan atau dibangun dengan mengandalkan figur tertentu biasanya cenderung menurunkan kepemimpinan kepada tokoh yang memiliki hubungan darah dengan pendirinya.
“Nampaknya partai-partai yang didirikan atau mengkultuskan atau membawa ketokohan seorang biasanya akan menurun kepada tokoh-tokoh yang punya aliran darah biologis,” jelasnya.
Ia mencontohkan, di Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menurunkan kepemimpinan kepada putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tanpa penolakan berarti.
“Kalau gitu biasanya nggak ada protes karena memang dia adalah anaknya. Dan itu pun terjadi, kan Megawati sekarang tinggal Prananda ataupun Puan,” tandasnya.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia