Strategi utama untuk meminimalkan potensi kerugian, menurutnya, adalah melalui monitoring dan evaluasi proyek secara konsisten. Jika ditemukan kejanggalan, proses tersebut harus segera diikuti dengan penegakan hukum yang tegas.
Sorotan Pembiayaan dan Kerugian Konsorsium
Selain masalah tata kelola, Indef juga menyoroti aspek pembiayaan proyek kereta cepat pertama di Indonesia ini. PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang memegang 60 persen saham di PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) ditaksir mengalami kerugian yang sangat signifikan, mencapai lebih dari Rp4 triliun.
Okupansi Rendah Jadi Penyebab Utama
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, tingkat okupansi atau keterisian penumpang Whoosh saat ini menjadi faktor kunci yang memperpanjang masa pengembalian investasi. Dengan kondisi okupansi seperti sekarang, perkiraan waktu untuk mencapai titik impas menjadi sangat lama.
"Ini mengakibatkan tingkat pengembalian (payback period) proyek Whoosh sangat lama. Saya pernah menghitung sekitar lebih dari 100 tahun dengan tingkat okupansi Whoosh seperti sekarang," pungkas Esther Sri Astuti.
Artikel Terkait
PDIP Kritik APBN 2025: Utang Rp9.658 Triliun dan Defisit Membengkak Rp54 Triliun
PHK Massal TikTok: Karyawan Teknologi Tokopedia Tersisa 35 Orang, Operasional Pindah ke China
Indonesia Siap Terapkan B50 Mulai 2026: Langkah Strategis Menuju Swasembada Energi
Purbaya ke China Urus Panda Bond, Ekonom: Jangan Dibesar-besarkan, Ini Baru Cari Utang!