“Pengelolaan aset negara telah mencapai Rp13.692,4 triliun, naik 7,57 persen. Sebetulnya kemarin saya kepinginnya nunjukin lima tahun kenaikan, tapi karena teman-teman mungkin agak keburu-buru dapatnya satu tahun saja. Nanti untuk menunjukkan naiknya itu betapa cukup dramatis dari satu tahun,” kata Sri Mulyani dalam rapat.
“Nilai aset negara secara keseluruhan naik bila dibandingkan pada catatan 2023 yang sebesar Rp 13.072,8 triliun,” sambungnya.
Kemudian, pendapatan yang dihimpun sepanjang tahun 2024 tercatat Rp 3.115,3 triliun, lebih rendah dari beban operasional sebesar Rp 3.353,6 triliun. Dengan demikian, terdapat defisit sebesar Rp 238,3 triliun.
Sri Mulyani juga menyampaikan, cakupan stakeholders yang semakin luas antara lain 99.546 pemerintah daerah, 75.266 desa dan 19.439 satuan kerja.
Adapun wajib pajak memiliki kontribusi besar dalam penerimaan negara mencapai 82,23 juta wajib pajak dan 148 ribu eksportir-importir
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Indonesia Paling Rentan Terimbas Konflik Timur Tengah, Ini Analisis Risiko S&P Global
Subsidi BBM Malaysia Melonjak 4 Kali Lipat: Penyebab, Dampak, dan Respons Pemerintah
Harga Pertalite Naik 2026? Simak Jadwal & Penyebab Kenaikan Usai Lebaran
Harga Pertamax Bisa Tembus Rp 20.700 per Liter? Ini Analisis dan Dampak Geopolitik