MULTAQOMEDIA.COM - Keraguan publik terhadap penangkapan individu yang diklaim sebagai peretas atau hacker 'Bjorka' kian menguat. Sejumlah pakar menilai, profil teknis orang yang ditangkap aparat tidak sejalan dengan kompleksitas operasi digital yang selama ini dijalankan oleh hacker tersebut.
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC), Pratama Persadha, menyebut kemampuan teknis yang ditunjukkan Bjorka jauh di atas rata-rata.
Ia mampu membobol basis data strategis, menjual dan membocorkan data di forum gelap, serta menjaga operational security (opsec) yang sangat ketat. Aktivitas ini, kata dia, hanya bisa dilakukan oleh peretas berpengalaman dengan infrastruktur mumpuni.
“Profil teknis Bjorka menunjukkan penguasaan jaringan, eksploitasi sistem, hingga penggunaan anonymizing network seperti TOR. Itu tidak bisa dilakukan sembarang orang,” kata Pratama kepada JawaPos.com.
Fakta di lapangan juga menunjukkan perbedaan mencolok. Sosok yang ditangkap aparat lebih menyerupai pengguna aktif daring biasa, dengan jejak digital yang tidak menunjukkan kapasitas peretasan berskala besar.
Hal ini membuat komunitas keamanan siber lokal mempertanyakan apakah individu tersebut benar-benar mampu mengeksekusi serangan setingkat Bjorka.
Artikel Terkait
Kasat Narkoba Polres Toraja Utara Diduga Terima Setoran Rp10 Juta per Minggu dari Bandar
KPK Ungkap Modus Keluarga Bupati Fadia Arafiq Kuasai Proyek RSUD Pekalongan Senilai Rp46 Miliar
Beda Keterangan OTT KPK: Fadia Arafiq Klaim Bersama Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi Bantah
KPK Tangkap Bupati Pekalongan Fadia Saat Ngecas Mobil Listrik di SPKLU Semarang