Secara terpisah, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan pesan tegas. Ia menyatakan bahwa AS hanya memiliki dua pilihan: menjalani diplomasi yang menghormati martabat dan kepentingan nasional Iran, atau menghadapi respons yang keras.
Qalibaf menegaskan bahwa Iran siap berunding selama hak-haknya dihormati. Namun, ia juga memperingatkan akan ada “pukulan keras” bila Washington memilih jalur militer atau taktik yang dianggap menipu dan tidak menghormati kedaulatan Iran.
Masa Depan Perundingan Nuklir Iran-AS
Putaran ketiga perundingan langsung antara Iran dan AS dijadwalkan berlangsung di Jenewa dengan mediasi Oman. Hingga saat ini, belum ada terobosan signifikan yang dicapai dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Ketegangan ini meninggalkan tanda tanya besar tentang masa depan kesepakatan nuklir. Analis mempertanyakan langkah AS selanjutnya jika jalur diplomasi benar-benar menemui jalan buntu, apakah akan menempuh aksi tekanan militer terbatas atau justru mengeskalasi strategi yang lebih luas.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan