Secara terpisah, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan pesan tegas. Ia menyatakan bahwa AS hanya memiliki dua pilihan: menjalani diplomasi yang menghormati martabat dan kepentingan nasional Iran, atau menghadapi respons yang keras.
Qalibaf menegaskan bahwa Iran siap berunding selama hak-haknya dihormati. Namun, ia juga memperingatkan akan ada “pukulan keras” bila Washington memilih jalur militer atau taktik yang dianggap menipu dan tidak menghormati kedaulatan Iran.
Masa Depan Perundingan Nuklir Iran-AS
Putaran ketiga perundingan langsung antara Iran dan AS dijadwalkan berlangsung di Jenewa dengan mediasi Oman. Hingga saat ini, belum ada terobosan signifikan yang dicapai dari pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Ketegangan ini meninggalkan tanda tanya besar tentang masa depan kesepakatan nuklir. Analis mempertanyakan langkah AS selanjutnya jika jalur diplomasi benar-benar menemui jalan buntu, apakah akan menempuh aksi tekanan militer terbatas atau justru mengeskalasi strategi yang lebih luas.
Artikel Terkait
Blok Sunni Turki-Mesir: Ancaman Nuklir Baru Bagi Israel?
AS Bebaskan Israel dari Iuran Board of Peace: Analisis Hegemoni dan Ketimpangan dalam Diplomasi Global
AS Tuduh Iran Kembangkan Rudal Jarak Jauh: Ancaman untuk Eropa dan Amerika?
Puluhan Jet Tempur AS Termasuk F-35 di Yordania: Analisis Ketegangan & Pernyataan Raja Abdullah