Rekaman video yang diverifikasi menunjukkan Shahed-136 menyerang berbagai target strategis, termasuk gedung apartemen di Manama (Bahrain), pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain, dan hotel mewah di Dubai. Suara dengung khas mesinnya menjadi tanda yang mudah dikenali.
Rusia juga mengadopsi drone ini, yang mereka sebut Geran-2, untuk menyerang infrastruktur sipil di Ukraina. Iran diketahui telah memproduksi dan menggunakan Shahed-136 setidaknya sejak tahun 2021.
Respons AS dan Keterlibatan Komponen dari Indonesia
Menanggapi ancaman ini, AS mengerahkan drone serang satu arah bernama Lucas buatan SpectreWorks, yang merupakan hasil rekayasa balik dari desain Shahed.
Yang lebih mengejutkan, investigasi Kementerian Keuangan AS (OFAC) mengungkap keterlibatan jaringan pasokan global dalam produksi drone Iran. OFAC menjatuhkan sanksi kepada individu dan perusahaan yang terlibat, termasuk seorang pengusaha drone dari Surabaya, Indonesia.
Pengusaha tersebut, pemilik Surabaya Hobby, diduga memasok 100 servomotor ke perusahaan Iran, Pishgam Electronic Safeh Company (PESC). PESC sendiri ditunjuk untuk menyediakan komponen vital bagi program drone Pasukan Udara IRGC. Komponen dari Indonesia ini akhirnya menjadi bagian dari drone yang digunakan oleh kelompok di Timur Tengah dan Rusia di Ukraina.
Wakil Menteri Keuangan AS, Brian Nelson, menegaskan komitmen AS untuk memutus jaringan pengadaan ilegal yang mendukung produksi senjata mematikan Iran ini.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu