Peringatan dari Al-Azhar Mesir
Lembaga Islam tertinggi di Mesir, Al-Azhar di Kairo, juga turut bersuara. Mereka menilai pernyataan Hegseth sebagai bentuk "terorisme intelektual" dan penghinaan terhadap miliaran umat Islam di dunia.
Al-Azhar memperingatkan bahwa kejahatan perang luar biasa bisa terjadi ketika tentara mulai bertindak dengan klaim menjalankan perintah Tuhan. Peringatan ini disampaikan menyusul penggunaan istilah-istilah religius seperti "Amalek" dan "Armageddon" oleh petinggi militer AS.
Pernyataan Kontroversial Menteri Pertahanan AS
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Brian Hegseth mengungkap alasan mengapa Iran harus diserang, yang dikaitkannya dengan kepercayaan “delusi kenabian Islam”. Pernyataan ini ia sampaikan untuk membenarkan operasi militer besar AS melawan Teheran yang diperintahkan Presiden Donald Trump.
“Rezim gila seperti Iran, yang sangat bergantung pada delusi Islam yang bersifat kenabian, tidak dapat memiliki senjata nuklir,” kata Hegseth. Pernyataannya dinilai menyindir keyakinan mayoritas Muslim Syiah di Iran tentang Imam Mahdi. Hegseth menggambarkan operasi militer yang diluncurkan atas perintah Trump sebagai "operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling tepat dalam sejarah".
Insiden ini semakin memanaskan ketegangan geopolitik dan menyulut debat tentang penggunaan narasi agama untuk membenarkan aksi militer di panggung internasional.
Artikel Terkait
Iran Siap Hadapi Invasi Darat AS-Israel: Ancaman Bencana Besar & Analisis Dampak Global
Iran Luncurkan Rudal Khorramshahr-4 ke Tel Aviv: Spesifikasi, Klaim Serangan & Analisis
Iran Gunakan Lukisan 3D Helikopter Tipu Israel: Strategi Decoy Rusia di Ukraina Ditiru
Iran Serang Kapal Tanker AS: Harga Minyak Melonjak & Dampak Global