Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan syahid di hari pertama operasi militer. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional 40 hari.
Konflik ini memicu kecaman internasional. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis hukum internasional yang berpotensi memperburuk stabilitas kawasan. Kremlin mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi.
Perang Berlanjut dan Persiapan Meja Perundingan?
Serangan AS dan Israel berlanjut pada Senin (10/3/2026), dengan menargetkan pusat komando di Isfahan, Shiraz, Kermanshah, dan Tabriz. Di Teheran, serangan dilancarkan di dekat Bandara Mehrabad dan markas Korps Quds.
Iran membalas dengan menghancurkan pangkalan pengendali satelit Israel. Meski Presiden Trump menyatakan perang hampir berakhir, pakar militer Brigjen Elias Hanna dalam analisis untuk Aljazeera menyebut eskalasi justru bisa jadi persiapan menuju perundingan.
Hanna menilai tujuan perang AS dan Israel tidak tercapai. Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, telah ditunjuk, sementara program nuklir dan rudal Iran tetap utuh. "Dia akan semakin meningkatkan eskalasi untuk menunjukkan legitimasinya sebelum sampai ke momen politik itu," kata Hanna mengenai pemimpin baru Iran yang dinilai butuh dukungan penuh dari lembaga militer.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu