Faktor diplomasi inilah yang disebut-sebut menjadi alasan di balik penundaan ancaman serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik. Sebelumnya, AS memberi ultimatum 48 jam kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
Peran Negara Mediator dan Rencana Pertemuan
Komunikasi tidak langsung antara kedua negara dikabarkan masih berlanjut. Beberapa negara aktif menjadi mediator:
- Pakistan disebutkan akan menjadi tuan rumah pertemuan lanjutan.
- Mesir dan Turki berperan sebagai perantara komunikasi.
Delegasi AS kemungkinan akan melibatkan Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan penasihat Jared Kushner. Sementara dari pihak Iran, pembicaraan dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Klaim Trump dan Prospek Perdamaian
Donald Trump mengklaim bahwa inisiatif pembicaraan justru datang dari Iran. Namun, dia menegaskan bahwa negosiasi tidak dilakukan dengan pemimpin tertinggi Iran, melainkan dengan figur lain yang sangat dihormati di negara tersebut.
Dengan penolakan terhadap dua syarat pokok Iran, prospek perdamaian jangka pendek masih tampak suram, meski dialog rahasia diperkirakan akan terus berlanjut dalam hari-hari mendatang.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu