Rudal Bawah Laut Iran Hoot 200 Kg: Torpedo Super Cepat yang Bikin Musuh Gemetar

- Kamis, 30 April 2026 | 15:25 WIB
Rudal Bawah Laut Iran Hoot 200 Kg: Torpedo Super Cepat yang Bikin Musuh Gemetar

Pada tahun 1970-an, ilmuwan Rusia mengembangkan motor roket berbahan bakar padat untuk torpedo. Laju torpedo memicu gelembung-gelembung gas di sekitarnya yang berfungsi mengurangi daya hambat air, memungkinkan torpedo melaju dalam kecepatan tinggi. Sederhananya, alih-alih mengiris air, torpedo ini menciptakan lintasan berkecepatan tinggi dengan gelembung gas.

Yang membedakan Hoot dengan torpedo lain adalah kemampuannya membawa hulu ledak hingga 200 kilogram. Namun, kecepatan tinggi ini harus dibayar mahal dengan jarak tempuh yang lebih pendek. Jika torpedo konvensional memiliki jarak tempuh hingga 30 km, Hoot hanya bisa menjangkau target dalam jarak 15 km.

Ancaman Konfrontasi dan Blokade Maritim AS

Penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, pada Kamis (30/4/2026) menyatakan bahwa Teheran dapat memilih konfrontasi jika blokade maritim AS terus berlanjut. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Rezaei menegaskan Iran memiliki berbagai cara untuk menembus blokade tersebut dan upaya penerapan blokade tidak akan berhasil.

Ia menambahkan, jika blokade berlanjut, Iran mungkin akan menggunakan konfrontasi untuk mematahkannya. Rezaei juga menguraikan kemungkinan skenario perang yang akan berfokus pada wilayah pesisir selatan, meluas hingga Isfahan, serta mencakup aktivitas di wilayah barat negara itu. Ia memperingatkan konflik semacam itu dapat mencakup pengeboman dan pembunuhan di Teheran.

Kronologi Konflik dan Gencatan Senjata

AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dibalas Teheran dengan serangan ke Israel dan negara-negara lain di kawasan yang menampung aset AS. Serangan udara AS-Israel menewaskan lebih dari 3.300 orang sebelum Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April yang dimediasi oleh Pakistan.

Meski awalnya dijadwalkan berakhir pada 22 April, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas pada 21 April atas permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Asim Munir.

Rencana Baru AS: Serangan Militer atau Blokade?

Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump dikabarkan akan menerima penjelasan tentang rencana baru terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Mengutip Axios, paparan dari Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menunjukkan Trump tengah mempertimbangkan secara serius untuk kembali melancarkan operasi tempur besar-besaran. Langkah ini disebut sebagai upaya memecah kebuntuan negosiasi atau memberikan tekanan terakhir kepada Iran.

Menurut laporan tersebut, CENTCOM telah menyusun rencana serangan "singkat tetapi intens" dengan kemungkinan menargetkan infrastruktur Iran guna mendorong negara itu kembali ke meja perundingan dengan sikap lebih fleksibel, khususnya terkait isu nuklir. Opsi lain mencakup kemungkinan menguasai sebagian wilayah Selat Hormuz guna membuka kembali jalur pelayaran komersial, meski langkah tersebut berpotensi melibatkan pasukan darat. Selain itu, rencana operasi pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran juga pernah dibahas sebelumnya.


Halaman:

Komentar