Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak 8 Juli, ketika pasukan AS melancarkan serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah. Pada 9 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran tidak lagi berlaku.
Sebelumnya, CENTCOM mengumumkan bahwa pasukan AS telah mengakhiri tujuh malam serangan berturut-turut terhadap Iran pada 17 Juli pukul 21:30 waktu setempat. Selama periode tersebut, militer AS menargetkan situs pengawasan, infrastruktur logistik, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kapabilitas maritim Iran. Operasi ini melibatkan jet tempur, drone, kapal perang, dan aset militer lainnya.
Militer AS menegaskan komitmennya untuk terus menuntut pertanggungjawaban Iran di bawah arahan Presiden Donald Trump. Sebagai bagian dari strategi tersebut, AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. CENTCOM juga menyatakan bahwa lebih dari 50.000 personel militer AS yang beroperasi di Timur Tengah tetap dalam kondisi siaga tinggi.
Serangan terbaru ini terjadi setelah AS mengumumkan pada 14 Juli bahwa mereka melanjutkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Ketegangan di kawasan Selat Hormuz terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan kedua pihak saling melancarkan serangan meskipun sebelumnya ada upaya mediasi dari Pakistan untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan