Sejak konflik bersenjata ini pertama kali meletup pada akhir Februari lalu, Iran gencar menyasar pangkalan dan aset-aset strategis AS di kawasan. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah meluncurkan gempuran balasan ke sejumlah target AS yang tersebar di Bahrain, Yordania, hingga Suriah.
Ancaman Houthi Sasar Jalur Minyak Arab Saudi
Eskalasi konflik diperkirakan bakal makin liar seiring munculnya ancaman baru dari kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Meski belum menerjunkan pasukannya secara langsung ke medan tempur Iran-AS, sekutu terdekat Teheran ini mengancam bakal mengunci dan memblokade pelabuhan-pelabuhan milik Arab Saudi.
Ancaman Houthi ini berpotensi melumpuhkan jalur pelarian ekspor minyak Riyadh. Selama ini, Arab Saudi masih bisa mengalirkan jutaan barel minyak per hari menembus blokade Selat Hormuz melalui Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.
Jika Houthi benar-benar merealisasikan gertakannya untuk menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, pasokan energi global dipastikan bakal makin kritis.
Situasi di kawasan bahkan makin rumit setelah militer Arab Saudi dan kelompok Houthi dilaporkan sempat terlibat aksi saling tembak untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Konflik yang tadinya mereda kini kembali membara dan berisiko menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran perang terbuka.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan