Aswan juga mengeluhkan sanksi Rp1 juta yang dikenakan karena keterlambatan pelaporan saat ia terpapar Covid-19. Ia merujuk pada UU KUP yang memberikan pengecualian sanksi bagi wajib pajak yang terkena bencana.
"Covid merupakan bencana nasional tapi tidak mendapat penghapusan sementara bencana di daerah lain, wajib pajak dapat penghapusan. Ini lagi-lagi standar ganda," tegasnya.
Menolak Tanda Tangan Surat Paksa
Ketika dipanggil untuk menerima Surat Paksa, Aswan memilih untuk menolak menandatanganinya sebagai bentuk perlawanan administratif. Meski begitu, ia diberi opsi untuk mengajukan permohonan keringanan atau penghapusan dengan persyaratan membuat surat permohonan sebanyak 53 lembar.
"Saya akan tempuh itu walaupun menurut mereka belum tentu dikabulkan," ujar Aswan.
Rencana Pengaduan ke DPR dan Menteri Keuangan
Aswan berencana mengadukan kasus ini ke Komisi XI DPR RI. Ia berharap legislator dapat mendorong Ditjen Pajak untuk memberikan kebijakan penghapusan denda bagi penyintas Covid-19, mencontoh instansi seperti Bapenda dan BPJS Kesehatan.
"Kementerian Keuangan harus belajar ke instansi lain yang sudah lama menghapus denda pajak," harap Aswan.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri