Penerapan strategi ini terlihat jelas pada Pilpres 2024. Jokowi memilih mendukung dan membiarkan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, bergabung dengan pasangan Prabowo Subianto. Langkah ini diambil setelah perhitungan yang matang.
Terlepas dari berbagai isu dan dugaan yang beredar, fakta menunjukkan kemenangan telak pasangan tersebut. Jokowi dianggap tidak akan mengambil risiko seperti yang diusulkan Ahmad Ali untuk menantang Prabowo secara prematur. Ia lebih memilih pernyataan yang aman: "Prabowo-Gibran dua periode."
Pelajaran dari Medan Kontestasi yang Dinamis
Namun, medan politik tidak selalu bisa diprediksi sepenuhnya dengan strategi "yakin menang". Terdapat contoh di mana kandidat dengan elektabilitas rendah justru menang, seperti kemenangan Pramono Anung atas Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta, atau kemenangan Anies Baswedan atas Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2012. Bahkan, kemenangan Jokowi sendiri atas Fauzi Bowo dahulu juga sempat dianggap kejutan.
Makna Kemenangan yang Lebih Luas dalam Politik
Politik kontestasi memiliki kompleksitas tersendiri dan tidak selalu sama dengan perang sesungguhnya. Dalam politik, seseorang bisa ikut bertarung dengan tujuan lain di luar kemenangan mutlak. Misalnya, untuk meningkatkan suara partai di tingkat legislatif atau sekadar membangun citra dan pengalaman.
Oleh karena itu, meski strategi ala Sun Tzu yang diyakini diterapkan Jokowi sangat efektif, prinsip itu mungkin tidak sepenuhnya berlaku untuk kontestasi masa depan seperti Pilpres 2029, di mana dinamika dan aturan permainan bisa berubah, serta makna "kemenangan" bisa lebih beragam.
Artikel Terkait
Prada Arif Tewas dengan 10 Luka Tusuk di Tangerang, Polisi Tangkap 4 Pelaku dalam 24 Jam
Hasto Kristiyanto Kritik Keras Pelibatan Babinsa Awasi Pajak: Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gibran Duduk di Kursi Menteri Saat Sidang Kabinet: Isyarat Politik atau Sekadar Teknis?