"Kami ingin ada pihak luar yang didengar oleh Presiden, ketimbang publiknya sendiri," ujar Tiyo di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026).
Respons dan Perlindungan dari UGM
Menanggapi insiden ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi menyatakan akan memberikan perlindungan. Juru Bicara UGM, Dr. I Made Andi Arsana, menegaskan kampus berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika dari ancaman.
"UGM menugaskan Kantor K5L untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan," jelas Made Andi dalam keterangan resmi, Minggu (15/2/2026).
Tiyo membenarkan telah terjadi koordinasi intensif dengan pihak universitas mengenai bentuk perlindungan yang akan diberikan.
Sikap Tegas Ketua BEM UGM
Di tengah ancaman, Tiyo Ardianto menyatakan tidak gentar. Ia mengutip prinsip 'what doesn’t kill you makes you stronger' dan slogan internal BEM UGM: "semakin ditekan, semakin melawan".
"Justru para peneror harus tahu, semakin meneror kita, itu justru semakin bahaya bagi mereka," tegas mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu.
Ia berharap teror ini adalah yang terakhir dan menjadi alarm bahwa demokrasi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Menurutnya, dalam negara demokrasi, kebebasan berpendapat adalah hak inherent setiap warga negara.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri