"Artinya apa? Sedapat mungkin dibuatlah suasana yang menunjukkan penghormatan dari mereka yang tidak puasa kepada orang yang berpuasa," jelasnya.
Memahami Keberagaman di Masyarakat
Wamenag mengingatkan bahwa umat Islam yang berpuasa perlu memahami bahwa tidak semua orang memiliki kewajiban atau keyakinan yang sama. Keberadaan fasilitas umum, termasuk rumah makan yang tetap buka, adalah hal yang wajar untuk mengakomodasi mereka.
"Kita yang berpuasa harus menyadari, ternyata enggak semua orang berpuasa. Enggak mungkin gara-gara kita puasa, maka semuanya harus merasakan puasa," ucap Syafii.
Bhinneka Tunggal Ika sebagai Landasan
Lebih lanjut, Syafii menegaskan bahwa Indonesia dibangun di atas landasan keberagaman. Pendekatan yang mengedepankan toleransi dan kebersamaan dinilai jauh lebih tepat dan bijaksana dibandingkan tindakan sweeping atau pemaksaan.
"Harus dipertimbangkan para koridor membangun kebersamaan, saling menghormati sehingga persatuan kita tidak terganggu karena perbedaan-perbedaan," pungkasnya.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri