Dampak Kebijakan Tarif & Perang Trump: Beban Ganda bagi Ekonomi Global dan Sekutu AS

- Kamis, 12 Maret 2026 | 07:50 WIB
Dampak Kebijakan Tarif & Perang Trump: Beban Ganda bagi Ekonomi Global dan Sekutu AS

Strategi Tarif Trump: Pemerasan di Tengah Krisis?

Kebijakan tarif Trump dinilai sebagai bentuk pemerasan di saat krisis. Beberapa hari setelah Mahkamah Agung memutuskan tarif global sebelumnya melanggar hukum, pemerintahan Trump segera meluncurkan penyelidikan Section 301 terhadap 16 mitra dagang. Pola "pajak lama dihapus, pajak baru muncul" mengungkap sifat spekulatif kebijakan ini, dengan mengabaikan hukum dan beban rakyat.

Beban Ganda: Konsumen AS dan Negara Miskin Menanggung Dampak

Biaya perang dan tarif ternyata dibagikan secara kejam. Petani dan pekerja AS menghadapi produk tidak laku akibat pembalasan dagang dan pendapatan riil yang tergerus inflasi. Studi menunjukkan hampir seluruh biaya tarif dibebankan kepada importir dan konsumen AS. Profesor Alex Bryson dari Universitas Birmingham menegaskan, meski tarif menghasilkan pendapatan lebih dari 100 miliar dolar AS bagi pemerintah AS, konsumen dan perusahaan AS-lah yang menanggungnya.

Di sisi lain, manufaktur Eropa dan Asia kehilangan margin keuntungan akibat harga energi tinggi dan rantai pasok terganggu. Negara miskin di Belahan Bumi Selatan bahkan menghadapi ancaman kelaparan akibat gangguan pengiriman pangan dan pupuk.

Kesimpulan: Ilusi "America First" dan Masa Depan Global yang Suram

Kebijakan perang dan tarif AS secara bersamaan membakar perdamaian Timur Tengah dan aturan perdagangan global. Gagasan "America First" terbukti sebagai ilusi mahal yang dibayar oleh seluruh dunia, termasuk rakyat AS sendiri. Perang dan tarif tidak akan membuat negara mana pun menjadi hebat, melainkan hanya akan memecah belah dunia, meningkatkan bahaya, dan memperdalam kemiskinan global.


Halaman:

Komentar