Setelah menyantap spageti tersebut, anak Z mengalami sejumlah gejala kesehatan yang mengkhawatirkan. "Anak saya tiba-tiba pusing, demam, dan sesak napas," tuturnya. Z kemudian membawa anaknya ke Puskesmas Duren Sawit, namun karena penuh dengan korban keracunan serupa, mereka dirujuk ke RSKD Duren Sawit.
"Saat ini kondisi anak saya masih demam, sedangkan banyak anak lain yang sakit muntaber," tambah Z, menggambarkan situasi yang masih mencemaskan.
Respons Pihak Berwenang
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur, M Fahmi, menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan apakah kejadian ini murni disebabkan oleh keracunan dari menu MBG. "Nggak tahu apakah itu bagian keracunan atau bukan," kata Fahmi.
Fahmi mengaku belum menerima hasil pemeriksaan sampel makanan dari menu spageti yang dikonsumsi siswa. Meski demikian, ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak. "Kami masih fokus kepada keselamatan anak-anak menyangkut kesehatannya," lanjutnya.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Insiden keracunan massal ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat dalam penyelenggaraan program makanan gratis di sekolah. Publik menunggu hasil investigasi resmi dan pemeriksaan sampel makanan untuk mengidentifikasi penyebab pasti keracunan dan mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
Artikel Terkait
Susno Duadji Pertanyakan Misi Rahasia Bandara Kertajati Jadi Pangkalan Militer AS
Reshuffle Kabinet 8 Juni 2026: Chatib Basri Siap Gantikan Purbaya Jadi Menteri Keuangan?
Bocah SD Tewas Bersimbah Luka di Sragen, Polisi Buru Pelaku Kekerasan
Islah Bahrawi Terima Pesan Teror dan Dibuntuti OTK, Rumah di Madura Didatangi Oknum TNI