Beberapa poin kritik warganet meliputi:
- Kritik terhadap MBG lebih fokus pada efisiensi anggaran, kualitas pelaksanaan, dan ketepatan sasaran, bukan karena tidak paham kemiskinan.
- Kekhawatiran bahwa program justru dinikmati siswa dari keluarga mampu, sementara masyarakat sangat miskin dan gelandangan luput.
- Nilai manfaat per siswa dari anggaran triliunan dinilai terlalu kecil untuk menyediakan menu bergizi layak.
Sebuah komentar viral menyatakan, “Bapak kali yang gak pernah miskin. Mau gak cobain menu MBG Rp10.000? Tapi yang jelas pengkritik MBG gak pernah ngerasain jadi koruptor!”
Netizen lain menulis, “Rakyat miskin selalu jadi alasan untuk menguras anggaran triliunan, tapi bukti nyata masih banyak yang belum mendapatkannya. Jangan bawa-bawa orang miskin kalau tujuannya hanya cuan.”
Meski banyak kritik, sejumlah warganet juga mendukung Amran, melihat pernyataannya sebagai pembelaan terhadap program prioritas pemerintah untuk memerangi stunting dan kurang gizi.
Program MBG Tetap Berjalan
Hingga saat ini, Kementerian Pertanian belum memberikan respons resmi atas polemik yang terjadi. Program MBG sendiri tetap digulirkan pemerintah dengan target menjangkau jutaan siswa dan kelompok rentan di seluruh Indonesia.
Pernyataan Amran ini menambah daftar kontroversi seputar program unggulan pemerintahan, di mana aspek pelaksanaan, transparansi anggaran, dan ketepatan sasaran terus menjadi sorotan publik.
Artikel Terkait
Menpar Widiyanti Bingung Jelaskan Anggaran di DPR, Video Viral Bikin Netizen Geram
Kasus Pemerkosaan Calon Polwan di Jambi: 3 Polisi Disanksi Etik, 2 Pelaku Dipecat
Image to Image AI Generator: Cara Ubah & Animasi Gambar Jadi Video Gratis
Api.co.id Tembus 2 Juta Hits: WhatsApp API Resmi Termurah di Indonesia