Generasi berikutnya pun tumbuh dengan cepat, seperti tunas yang langsung menjulang tanpa harus berebut cahaya. Putri Amanda Nur Ramadhani, di usia 23 tahun, sudah duduk sebagai Ketua Kadin Kaltim. Anak gubernur, Syahrah, ikut mengisi struktur kekuasaan. Sementara itu, kabar beredar tentang keterlibatan keluarga dalam Bank Kaltimtara. Jika hutan ini adalah sebuah ekosistem, ini bukan lagi regenerasi alami, melainkan reboisasi yang ditanam dengan satu jenis pohon saja.
Di tengah semua itu, rakyat bagaikan ikan-ikan kecil di delta Mahakam yang berenang mencari ruang di antara kapal-kapal besar yang lalu-lalang. Mereka bersuara lewat aksi "Kaltim Darurat 214" yang menggema seperti suara burung enggang, simbol kebebasan. Namun kali ini, suara itu lebih mirip alarm yang diputar berulang-ulang, didengar tetapi tidak pernah benar-benar direspons. Aparat berdiri seperti penjaga taman nasional, memastikan tidak ada yang melanggar batas, tetapi tidak pernah menyentuh inti masalah di dalam hutan itu sendiri.
Simbol paling mencolok dari ironi ini adalah mobil dinas Rp 8,5 miliar milik gubernur yang meluncur di jalanan. Di tanah yang kaya batu bara dan minyak, kendaraan itu bagaikan kapal pesiar yang melintas di sungai kecil, terlalu besar, terlalu mewah, dan terlalu kontras dengan kehidupan di sekitarnya. Seolah-olah kekuasaan di Kaltim bukan lagi soal pelayanan publik, melainkan soal siapa yang memiliki kendaraan paling mahal untuk melintasi jalan yang sama-sama berlubang.
Para pengamat pun bagaikan peneliti yang mencatat kerusakan ekosistem ini. Syubhan Akib melihat bahaya gurita dinasti, Musyanto mencium syahwat politik, Burhanuddin Muhtadi menyebutnya oligarki elektoral, Edward Aspinall mengingatkan patronase, dan Yenny Wahid menegaskan absennya meritokrasi. Semua laporan ilmiah ini mengarah pada satu kesimpulan: ekosistem demokrasi yang mulai kehilangan keanekaragaman.
Akhirnya, Kaltim berdiri seperti hutan yang tampak hijau dari jauh, tetapi menyimpan ketimpangan di dalamnya. Bara tambang mungkin akan padam suatu hari, tetapi bara kemarahan rakyat terus menyala. Demo berikutnya tinggal menunggu waktu, seperti musim hujan yang pasti datang. Di tengah semua metafora alam ini, satu kenyataan tetap sulit dibantah: di tanah Borneo ini, kekuasaan tak lagi mengalir seperti sungai untuk semua, melainkan berputar seperti pusaran yang mengunci dirinya di lingkar keluarga yang sama.
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Istri dan Dua Anak Bandar Narkoba Ko Erwin Diperiksa Intensif Bareskrim, Aset TPPU Disita
Deretan Mantan Panglima TNI Hadiri Pertemuan dengan Menhan, Andika Perkasa hingga Gatot Nurmantyo
Selat Malaka vs Selat Hormuz: Gagasan Tarif Lintas Kapal yang Bikin Singapura Bereaksi
Yahya Zaini Dukung Pembatasan Masa Jabatan Ketum Parpol Maksimal Dua Periode