Dengan nilai barang mencapai 3,5 triliun dolar AS per tahun, Selat Malaka mengalirkan 25 hingga 40 persen dari total perdagangan maritim global. Angka ini hampir tujuh kali lipat dari nilai perdagangan yang melintas di Selat Hormuz. Sebagai perbandingan, Selat Hormuz hanya mengalirkan sekitar 20-25 persen atau 20 juta barel perdagangan minyak global per hari, dengan nilai perdagangan energi diperkirakan mencapai hampir USD 600 miliar per tahun.
Selain minyak, Selat Hormuz juga krusial untuk ekspor gas alam cair (LNG) dan seperempat perdagangan pupuk dunia. Namun, kepemilikan Selat Malaka belum memberikan keuntungan maksimal bagi negara-negara yang memilikinya. Sebagian besar keuntungan justru dinikmati oleh Singapura yang memiliki pelabuhan lebih sering disinggahi kapal kargo dunia.
Pernyataan Purbaya mengenai penerapan tarif di Selat Malaka pun membuat Singapura bereaksi. Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menegaskan bahwa jalur pelayaran melalui Selat Malaka dan Singapura harus tetap terbuka untuk semua. "Hak akses transit dijamin untuk semua orang. Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup, melarang, atau mengenakan biaya tol di lingkungan kami," ujarnya dalam diskusi di acara CNBC Singapura.
Artikel Terkait
Deretan Mantan Panglima TNI Hadiri Pertemuan dengan Menhan, Andika Perkasa hingga Gatot Nurmantyo
Yahya Zaini Dukung Pembatasan Masa Jabatan Ketum Parpol Maksimal Dua Periode
Syekh Ahmad Al Misry Ditantang Mubahalah Usai Bantah Tuduhan Pelecehan Seksual, Berani?
Kaltim Darurat Politik Dinasti: Ancaman Gurita Kekuasaan Keluarga Masud yang Mengakar