Pelaku pembunuhan berasal dari lingkaran terdekat. Tiga nama mencuat: LK, mantan kepala desa di Kutai Barat yang seharusnya menjadi penengah konflik, justru berada di garis depan kekerasan. Bersamanya, SA dan VN ikut menenun malam menjadi lautan darah. Mereka merancang, datang dengan niat, dan menusuk tanpa ragu, seolah nyawa manusia hanya angka yang bisa dihapus.
Alfian, satu-satunya yang selamat, harus berlari menembus malam dengan tubuh terluka dan jiwa remuk. Ia selamat, tetapi mungkin tak akan pernah benar-benar hidup seperti dulu. Apa yang ia lihat akan terus menghantuinya.
Ironi paling kejam dari kasus pembunuhan ini adalah semua bermula dari sengketa lahan. Hanya tanah, benda mati yang tak bisa dibawa ke kubur. Tanah akan tetap ada ketika para pembunuh dan korban sama-sama menjadi debu. Betapa mengerikan ketika manusia menukar nyawa anak kecil, ibu, ayah, dan keluarga dengan sesuatu yang tak bisa mereka genggam selamanya.
Hukum mungkin akan datang dan pelaku dihukum berat. Namun, hukuman apa yang bisa mengembalikan tawa David? Vonis apa yang bisa menghidupkan kembali Tasya? Penjara seumur hidup tak akan bisa menghapus jerit malam itu.
Tragedi Barito Utara ini adalah cermin paling gelap dari wajah manusia. Ketika keserakahan mengalahkan kasih sayang, ketika sebidang tanah lebih berharga dari darah, nyawa manusia bisa jatuh sedemikian murah. Murah sekali, hingga lima nyawa bisa dibayar hanya dengan sebidang tanah.
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Putusan PTUN Batalkan Sanksi Etik UI: Jimly Asshiddiqie Sebut Hakim Tak Paham Batas Hukum dan Otonomi Akademik
Said Didu Jenguk Roy Suryo dan Dokter Tifa di Polda Metro Jaya, Begini Kondisi Terbaru Kedua Tersangka Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda Usai Cek Kesehatan, Kondisi Lemas Usai Diperiksa di RS Polri
Refly Harun Murka! Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksa Pakai Rompi Oranye, Dianggap Kriminal