OLEH: AHMADIE THAHA
KADANG sebuah negara tidak runtuh oleh perang. Tidak juga oleh bom. Tapi oleh invoice. Oleh angka kecil yang sengaja dikecilkan. Oleh harga sawit yang dibuat kurus ketika keluar dari pelabuhan Indonesia, lalu mendadak gemuk ketika tiba di Amerika.
Barangnya sama. Kapalnya sama. Lautnya sama. Tapi begitu melewati Singapura, harganya gemuk berlipat-lipat seperti habis minum susu dinosaurus.
Purbaya Yudhi Sadewa tampaknya sedang membuka pintu gudang paling gelap republik ini. Gudang yang selama puluhan tahun mungkin lebih sunyi daripada ruang meditasi para pertapa Himalaya. Bedanya, di gudang ini bukan dupa yang dibakar, melainkan devisa negara.
Bayangkan. Sawit dari Indonesia dicatat Rp2.600 per kilogram. Sampai Amerika berubah jadi Rp4.200. Ada lagi yang lebih ajaib. Dari sini dicatat Rp1.000, di sana tiba-tiba Rp4.400. Kalau rakyat kecil melakukan sulap begini di pasar tradisional, mungkin sudah dituduh pakai ilmu hitam kiriman jin finance internasional.
Dan yang lebih membuat jidat rakyat berkedut adalah kalimat Purbaya sendiri, "10 besar semuanya seperti itu."
Semuanya. Semuanya adalah sepuluh perusahaan sawit.
Kalimat itu pendek. Tapi efeknya seperti petir menyambar gardu listrik nasional. Karena itu berarti ini bukan ulah tikus kantor.
Ini bukan penyelundupan recehan model sembunyi solar di drum belakang rumah. Ini sistem. Ini industri. Ini orkestrasi. Ini mungkin lebih rapi daripada administrasi sebagian kantor pemerintahan sendiri.
Perusahaannya membuat cabang di Singapura, British Virgin Islands, dan surga-surga pajak lain yang lebih ramah terhadap uang daripada terhadap moral.
Dari Indonesia barang dijual murah ke perusahaan sendiri. Lalu perusahaan luar negeri itu menjual kembali dengan harga asli. Selisihnya? Parkir manis di luar negeri sambil menikmati angin dolar.
Negara kehilangan pajak. Kehilangan devisa. Kehilangan marwah. Rakyat kebagian pidato tentang penghematan.
Lalu kita baru sadar mengapa negeri yang tanahnya penuh emas, sawit, batu bara, nikel, gas, dan hutan justru kadang tampak seperti orang kaya yang dompetnya selalu hilang.
Yang menarik, Presiden Prabowo tampaknya tidak sedang bermain-main. Ia malah memilih jalur yang sangat berbahaya secara politik yaitu membongkar mekanisme ekspor. Membuat badan satu pintu. Danantara Sumberdaya Indonesia. Semua ekspor SDA lewat satu pintu.
Itu bermula dari laporan BPK tentang praktik under invoicing, yang juga sudah lama diketahuinya. Ketika laporan sampai ke meja Presiden Prabowo, konon responsnya sederhana tapi mengandung daya ledak politik luar biasa.
"Coba kamu pelajari," perintahnya ke Purbaya. Maka Menteri Keuangan ini pun bergerak. Ia tidak memakai ilmu sihir ekonomi tingkat dewa, tidak juga memanggil detektif dari serial Netflix. Ia cuma membuka data ekspor, mencocokkan harga dari Indonesia dengan data impor negara tujuan.
Ia menelusuri jalur kapal, melihat perusahaan perantara di Singapura dan British Virgin Islands, lalu membandingkan angka demi angka. Kerja penelusuran seperti itu sudah biasa dilakukannya di beberapa lembaga, sebelum ini. Sesederhana itu.
Bahkan anak SD yang baru belajar hitung-hitungan untung rugi warung mungkin bisa paham kalau barang dijual Rp1.000 di sini lalu tercatat Rp4.400 di sana, ada sesuatu yang lebih ajaib daripada sulap badut ulang tahun.
Data itu sebetulnya sudah ada selama 34 tahun, tersimpan rapi seperti bangkai yang sengaja ditaruh di lemari dan pura-pura dianggap parfum ruangan. Bedanya, kali ini ada orang yang punya nyali membukanya, dengan dukungan penuh dari atasannya.
Artikel Terkait
Sopir Cabul Perkosa Pembantu di Kelapa Gading saat Majikan Pergi, Polisi Amankan Tersangka
BPOM Rilis 22 Produk Herbal Palsu Berbahaya, Mayoritas Obat Kuat Pria Ilegal
SIM Asing vs SIM Internasional di Indonesia: Panduan Lengkap untuk Turis dan Ekspatriat
Pimpinan Ponpes Ngawi Tersangka Pencabulan Santriwati, Korban Diduga Capai 7 Orang Lebih