"Sekolah-sekolah tersebut kami anggap, berdasarkan kriteria yang kami susun, secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka. Oleh karena itu, mereka tidak membutuhkan intervensi dari pemerintah," jelasnya.
Agustina menambahkan, anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk sekolah-sekolah itu akan dialihkan ke kelompok yang lebih membutuhkan. Sasaran prioritas baru meliputi anak-anak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.
"Pemerintah mengalihkan ke sekolah lain, ke tempat lain, ke daerah 3T, ke ibu hamil, ibu menyusui, dan balita," katanya.
Dia menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring proses pemutakhiran data yang terus berjalan. BGN saat ini masih melakukan verifikasi berdasarkan indikator seperti kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, serta akses terhadap pemenuhan gizi.
"Angka di atas masih akan terus kami perbaharui. Angka itu sementara sampai dengan hari ini. Kami masih terus bekerja untuk memperbarui kualitas data," ujar Agustina.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri