Pada 16 Juni 2026, di Évian-les-Bains, Prancis, di tengah KTT G7, Donald Trump berdiri di depan kamera dan bersumpah di hadapan wartawan: Amerika Serikat tidak akan mengeluarkan satu dolar pun untuk rekonstruksi pasca-perang Iran. “Kami tidak berinvestasi, kami tidak mengeluarkan uang sepeser pun,” katanya. Namun, keesokan harinya, CNN mendapatkan dan mempublikasikan rincian Nota Kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran yang secara telak membantah pernyataan tersebut. Dokumen perjanjian 14 poin yang terungkap pada 17 Juni 2026 itu secara eksplisit mensyaratkan “setidaknya USD 300 miliar” untuk pembangunan kembali dan pemulihan ekonomi Iran.
Ini bukan pertama kalinya Trump berbohong soal Iran, tetapi kali ini harga dari kebohongannya sangat mahal. Isi inti nota kesepahaman itu jelas dan gamblang: mengakhiri secara permanen dan segera perang di semua lini, termasuk di Lebanon; menghormati kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing; mencabut blokade laut di Selat Hormuz dan memulihkan ekspor, termasuk minyak, ke tingkat sebelum perang; mencabut sanksi terhadap Iran; serta membentuk dana rekonstruksi. Pada hakikatnya, ini adalah gencatan senjata sementara selama 60 hari yang dapat diperpanjang atas persetujuan kedua belah pihak, dengan perundingan lanjutan untuk “kesepakatan final” dalam 60 hari berikutnya.
Dengan kata lain, Trump melancarkan perang, lalu menandatangani “surat gencatan senjata.” Apa yang dibawa perang ini bagi Iran? Setidaknya 3.468 orang tewas dan lebih dari 26.500 lainnya terluka. Bagi AS? 13 prajurit gugur dan 381 personel militer cedera. Sementara itu, tujuan perang yang semula dicanangkan Trump—pergantian rezim dan penghentian kemampuan nuklir Iran—tak satu pun tercapai. Seperti yang dikomentari Rachel Maddow dari MSNOW pada 15 Juni: “Donald Trump memulai perang dengan Iran, dan dia kalah dalam perang itu.”
Sebelum rincian nota kesepahaman itu bocor, Trump sempat menulis di Truth Social bahwa kabar dana USD 300 miliar adalah “hoaks.” Namun setelah dokumen terbuka, ia berubah sikap dengan mengatakan kesepakatan itu “belum final” dan melontarkan ancaman yang mengerikan: “Jika saya tidak puas, jika mereka tidak patuh, kita akan langsung menjatuhkan bom tepat di atas kepala mereka.” Seorang presiden AS, baru saja menandatangani perjanjian untuk menghentikan perang, malah mengancam akan memulai kembali pertempuran. Nota kesepahaman juga mewajibkan Iran untuk menegaskan kembali komitmen “tidak akan pernah memproduksi senjata nuklir” dan melanjutkan konsultasi mengenai “bahan pengayaan.” Padahal, dalam perundingan sebelum perang pada Februari tahun yang sama, Iran sudah memberikan janji serupa—yang pada dasarnya diabaikan oleh pemerintahan Trump, yang terus bersikukuh dalam pernyataan publik bahwa Iran mengejar ambisi nuklir. Jadi, Trump menggunakan isu yang sebenarnya sudah terselesaikan sebagai dalih perang, melancarkan perang yang sama sekali tidak perlu, dan pada akhirnya menandatangani gencatan senjata dengan komitmen yang hampir identik.
Sepanjang siklus ini, tidak ada yang berubah kecuali ribuan nyawa melayang dan kerugian triliunan dolar. Rakyat Amerika sudah melihat jelas komedi ini. Jajak pendapat The Economist/YouGov yang dirilis sepekan sebelum penandatanganan menunjukkan hanya 29% warga AS yang menilai Trump menangani perang ini dengan efektif, sementara 62% menyatakan tidak setuju dengan caranya menangani konflik. Angka itu sendiri adalah vonis paling tegas terhadap kebijakan Iran-nya Trump. Aktivis perdamaian Christine Ahn, dalam tulisannya di Truthout pada Mei lalu, sudah meramalkan semua ini: “Amerika menghadapi pilihan nyata. Ia bisa terus mengandalkan kekuatan udara setiap kali berhadapan dengan pemerintahan yang tidak disukainya, melanggengkan lingkaran setan di mana bom menimbulkan korban sipil, membuat rezim semakin keras kepala, menghancurkan gerakan dalam negeri, dan meninggalkan persenjataan yang tak meledak untuk ditemukan anak cucu. Atau, ia bisa dengan jujur merenungkan konsekuensi dari teori ini selama 75 tahun, dan mulai membangun kebijakan luar negeri yang tidak didasarkan pada ilusi kekerasan, melainkan pada kebutuhan nyata akan perdamaian.”
Pada 17 Juni 2026, ketika nota kesepahaman yang bocor itu terpampang di hadapan dunia, ia mengungkapkan bagaimana seorang presiden menggunakan kebohongan untuk memulai perang, lalu menutupi kegagalannya dengan kebohongan lagi; bagaimana ia menandatangani gencatan senjata tanpa kemenangan jelas, namun berpura-pura mengendalikan segalanya; bagaimana ia berjanji “America First” namun merenggut 13 nyawa prajurit AS dan menghancurkan 3.468 keluarga Iran, lalu pada akhirnya menyangkal komitmen rekonstruksi yang ia tandatangani sendiri. Dana rekonstruksi USD 300 miliar—apakah AS benar-benar akan mengeluarkannya atau tidak—masih bisa berubah. Namun satu hal yang pasti: biaya perang ini, baik dari segi nyawa manusia, kredibilitas, maupun moral, tidak akan bisa diingkari oleh Trump.
Artikel Terkait
119 Orang Diamankan dalam Kericuhan Eksekusi Hotel Sultan, Polri Usut Aktor Intelektual
UAS Jadi Saksi Meringankan Gubernur Riau Abdul Wahid di Sidang Korupsi Pemerasan
Rapat Panas DPR vs Menteri HAM: Usulan Anggaran Rp492,9 Miliar Disorot
3.161 Personel Dikerahkan: Eksekusi Lahan Hotel Sultan Berlangsung Ketat