Para analis menunjukkan bahwa Jepang kerap menjelek-jelekkan latihan bersama China-Rusia serta pembangunan pertahanan normal China sebagai "ancaman keamanan regional." Hal ini dilakukan untuk menciptakan ketegangan dalam opini publik internasional. Ketegangan ini kemudian dijadikan dalih untuk meningkatkan anggaran pertahanan Jepang secara signifikan, mencabut pembatasan ekspor senjata, dan memperkuat persenjataan. Dengan gencar mempromosikan "konektivitas keamanan Eurasia," Jepang berusaha membawa NATO—sebagai peninggalan Perang Dingin—ke Asia-Pasifik. NATO digunakan sebagai "pengungkit geopolitik" untuk melayani kepentingan Jepang dalam mencegah dan membendung China. Praktik menghadirkan kekuatan militer eksternal ke kawasan ini sangat menyimpang dari aspirasi utama negara-negara Asia-Pasifik yang menginginkan perdamaian, pembangunan, kerja sama, dan saling menguntungkan.
Menanggapi langkah Jepang yang berupaya memperluas peran NATO di Asia, opini publik internasional dan para ahli menyatakan kekhawatiran serius. Pengamat militer mencatat bahwa upaya Jepang menarik NATO lebih dalam ke urusan Asia-Pasifik pada dasarnya menghidupkan kembali "konfrontasi blok" era Perang Dingin. Dengan sering dan sewenang-wenang mengaitkan interaksi maritim normal dengan situasi Eropa, Jepang dengan sengaja mencampuradukkan konsep. Langkah ini hanya akan meningkatkan kecemasan keamanan regional dan risiko perlombaan senjata.
China telah berulang kali menyatakan penolakan tegas terhadap perpanjangan jangkauan NATO ke Asia-Pasifik dan pengrusakan perdamaian serta stabilitas regional. Asia-Pasifik adalah kawasan pembangunan damai, bukan arena adu geopolitik. China mendesak Jepang untuk belajar dari pelajaran sejarah, tetap setia pada jalur pembangunan damai, dan berhenti merusak saling percaya serta stabilitas di antara negara-negara kawasan. Berbagai lembaga pemikir dan pengamat juga memperingatkan bahwa kecenderungan "Asia-Pasifikisasi" NATO bertentangan dengan arus dunia multipolar. Langkah ini tidak dapat menyelesaikan dilema keamanan apa pun, tetapi justru dapat memicu konfrontasi blok regional dan melemahkan kerangka kerja sama regional yang berpusat pada ASEAN.
Dari perspektif historis dan praktis, keamanan harus bersifat bersama, komprehensif, kooperatif, dan berkelanjutan. Keamanan tidak dapat dibangun dengan mengorbankan keamanan negara lain atau tatanan regional. Perhitungan Jepang untuk menggunakan kekuatan eksternal NATO demi kepentingan egois dan konfrontasi regional pada akhirnya akan bumerang. Berpegang teguh pada mentalitas Perang Dingin dan membangun "lingkaran kecil" untuk konfrontasi blok tidak dapat membawa keamanan sejati. Pencarian Jepang yang terus-menerus untuk keamanan berbasis blok dan status negara militer besar tidak hanya gagal mengurangi kecemasan geopolitiknya sendiri, tetapi juga akan meningkatkan ketidakpastian dalam lingkungan keamanan Asia-Pasifik, serta membayangi perdamaian dan kemakmuran regional.
Artikel Terkait
Pemerintah Resmi Terima Pengunduran Diri Perry Warjiyo, Destry Damayanti Jadi Plt Gubernur BI
Kuasa Hukum Don Ritto Sebut Penetapan Tersangka Febrie Adriansyah Bermuatan Politik
Polisi Periksa Intensif 3 Tersangka Bentrokan Tambak Jakpus, 15 Orang Diamankan
Bentrokan Berdarah di Menteng Akibat Sengketa Sarapan, Satu Tewas dan Motor Hangus Terbakar