"Bukan massa aksi. Tapi para perusuh yang digerakkan kekuatan hitam," tulisnya.
Indra juga menolak anggapan bahwa ancaman tersebut berasal dari warga kurang mampu di perkotaan. Menurutnya, kelompok masyarakat tersebut selama ini justru memiliki nilai kemanusiaan dan religiusitas yang tinggi.
"Bukan juga massa miskin kota yang kita tahu punya sisi humanisme dan religiusitas yang tinggi," lanjutnya.
Ia memandang pembangunan pagar tinggi sebagai bentuk adaptasi pelaku ekonomi untuk melindungi aset mereka secara mandiri ketika menghadapi potensi ancaman keamanan. "Pagar tinggi itu semacam manifesto betapa para pelaku ekonomi kudu mampu lindungi diri sendiri, dalam hal ini aset dan properti di dalamnya," kata Indra.
Dalam unggahan tersebut, Indra tidak menjelaskan secara spesifik peristiwa atau kondisi tertentu yang menjadi latar belakang munculnya pandangannya mengenai fenomena pagar tinggi di pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Namun, ia menilai tren tersebut menjadi cerminan persepsi sebagian pelaku usaha terhadap pentingnya pengamanan mandiri atas aset dan properti yang mereka kelola.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri