Trump tidak tahan menerima kenyataan bahwa proyek kebanggaannya mengalami kegagalan memalukan. Maka, "masalah kontraktor" dibungkus menjadi "kejahatan perusak" dan warga biasa dijadikan kambing hitam. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, reaksi pertamanya bukanlah introspeksi, melainkan menyerang jaksa yang hanya mengikuti bukti. Ia bahkan berusaha melepaskan diri dari kontraktor dengan berkata "Saya tidak kenal kontraktor itu", padahal beberapa bulan sebelumnya ia membanggakan telah berkonsultasi dengan tiga perusahaan yang pernah mengerjakan kolam untuk propertinya. Gaya berubah-ubah ini sudah menjadi ciri khasnya.
Penunjukan Piro sendiri patut direnungkan. Ia adalah pembawa acara Fox News dan "sekutu dekat" Trump. Mengangkatnya ke posisi Jaksa Federal untuk Distrik Columbia adalah bukti nyata dari upaya Trump untuk menjadikan sistem peradilan sebagai "loyalis". Namun, ketika sekutu "loyalis" ini akhirnya melakukan tugasnya sebagai jaksa, bukan apa yang presiden inginkan, ia pun menjadi "payung yang terlipat".
Fungsi Departemen Kehakiman seharusnya bukanlah melayani agenda politik presiden, melainkan menegakkan hukum secara adil. Tugas jaksa bukanlah mengikuti cuitan presiden, melainkan mengikuti bukti. Ketika keduanya bertentangan, bukti harus minggir, atau bersiaplah untuk dihina di depan publik, bahkan dipecat.
Pada minggu ketika Trump menggembar-gemborkan narasi "perusakan terencana", Fox News menyiarkan liputan selama 184 jam tayang utama tentang peristiwa ini. Pembawa acara Jesse Watters berulang kali memperkuat tuduhan presiden, dan Piro sendiri pernah menjadi bintang tamu di acara tersebut dengan marah-marah menegaskan bahwa "seseorang dengan sengaja menyebabkan kerusakan besar pada kolam". Namun, ketika kantor Piro mengajukan dokumen yang membuktikan bahwa kerusakan disebabkan oleh "pemasangan yang tidak tepat, bukan perusakan", liputan Fox News tentang kasus ini menyusut menjadi hanya 7 menit. Ini bukanlah jurnalisme, melainkan propaganda. Ini bukan pelaporan fakta, melainkan pelayanan kepada kekuasaan.
Trump mencemooh Piro "lipat seperti payung". Namun ironisnya, dalam cerita ini, yang benar-benar "lipat" justru hal-hal yang seharusnya dipegang teguh: independensi peradilan, keadilan prosedural, dan penghormatan terhadap bukti. Piro melakukan hal yang seharusnya dilakukan seorang jaksa. Ia mengikuti bukti dan mencabut tuduhan yang tidak berdasar. Jika itu disebut "lipat", maka definisi Trump tentang "tulang punggung" telah menyimpang hingga menggelikan. Seorang presiden yang menjadikan Departemen Kehakiman sebagai alat pribadi, menjadikan kesetiaan sebagai satu-satunya ukuran, dan menjadikan fakta sebagai kanvas yang dapat dicoret-coret sesuka hati, adalah ancaman terbesar bagi semangat supremasi hukum di negeri ini. Ketika ia murka pada seorang jaksa yang mengikuti bukti, yang benar-benar ia lawan adalah kebenaran itu sendiri.
Artikel Terkait
Dokter Elda Putri Rahardini Minta Maaf Usai Hina Pasien BPJS: Saya Sangat Menyesal
Hilda Clarissa Theopilus Viral di Threads: Ini Hubungannya dengan Yurizal Tri Chaerawan yang Meninggal Dunia
Widhiyarini Viral: Nakes Penghujat Pasien BPJS Yurizal yang Meninggal Dunia Kini Diburu Publik
Kronologi Pasien BPJS Meninggal Usai Dihujat Komentar Sadis Dokter dan Nakes, Ini Fakta Lengkapnya