RS Pusri Resmi Putus Kerja Sama dengan dr. Tamara Usai Kontroversi Komentar BPJS di Media Sosial

- Jumat, 07 Agustus 2026 | 01:00 WIB
RS Pusri Resmi Putus Kerja Sama dengan dr. Tamara Usai Kontroversi Komentar BPJS di Media Sosial

"Mending banyakin duit halal daripada banyakin bacot, biar bisa bayar dan merasakan asuransi swasta," lanjutnya dalam unggahan yang sama.

Usai menuai kecaman publik dan sorotan tajam dari sesama sejawat dokter, pemilik akun @tamdjs akhirnya mengunggah klarifikasi serta permohonan maaf terbuka melalui utas di platform Threads. Dalam klarifikasinya, ia menyampaikan duka cita atas meninggalnya almarhum Yurizal yang menjadi pemicu awal perdebatan.

Namun, dr. Tamara mengklaim tidak pernah berkomentar langsung di utas milik kerabat almarhum. Ia mengaku hanya merespons utas pihak lain guna meluruskan apa yang menurutnya sebagai "penggiringan opini buruk" terhadap sistem BPJS dan tenaga kesehatan (nakes).

Dalam klarifikasinya, dr. Tamara juga menceritakan pengalaman pribadinya yang pernah menjadi caregiver bagi orang tuanya yang menggunakan BPJS Kesehatan. Menurutnya, masalah utama yang kerap memicu bentrok antara pasien dan tenaga medis adalah kurangnya publikasi aturan regulasi BPJS kepada masyarakat.

"Nakes hanya pelaksana, bukan pembuat kebijakannya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada yang kurang berkenan dengan penyampaian saya," tulis akun @tamdjs menutup klarifikasinya.

Ia juga menyebutkan bahwa jika pasien merasa aturan BPJS buruk, alangkah baiknya menambah asuransi lain. Dokter tersebut meminta masyarakat tidak menekan nakes karena nakes hanya pelaksana teknis di lapangan dan bukan pembuat kebijakan BPJS.

Di sisi lain, ia mengaku sempat mengalami kesulitan masuk (login) ke akun media sosial pribadinya dan meminta maaf jika ada kegaduhan yang timbul. "Saya sempat kesulitan masuk ke akun-akun sosmed saya. Saya masih belum tau adakah hal-hal di sana yang bukan saya yang melakukannya. Saya minta maaf kalau misal ada kegaduhan di sana," ujarnya.

Dr. Tamara berharap komentar pedas dan hujatan dari netizen yang ditujukan kepadanya dapat menjadi penggugur dosa dan membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. "Untuk komentar-komentar dari netizen yang tidak enak ke saya, mudah-mudahan bisa jadi penggugur dosa saya, dan baik saya ataupun kamu bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi aamiin. Overall Terimakasih atas atensinya," tutupnya.

Meskipun permohonan maaf dan klarifikasi telah disampaikan, Manajemen RS Pusri menegaskan bahwa penegakan disiplin dan etika profesi di internal rumah sakit tetap berjalan sesuai prosedur yang berlaku. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh tenaga kesehatan tentang etika komunikasi di media sosial dan pentingnya menjaga empati terhadap pasien dalam setiap interaksi, baik di dunia nyata maupun digital.


Halaman:

Komentar

Terpopuler