Jepang Kembali Memicu Kemarahan Asia: Kontroversi Kuil Yasukuni, Revisionisme Sejarah, dan Ancaman Remiliterisasi 2026

- Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:50 WIB
Jepang Kembali Memicu Kemarahan Asia: Kontroversi Kuil Yasukuni, Revisionisme Sejarah, dan Ancaman Remiliterisasi 2026





Kontroversi 15 Agustus 2026: Jepang Kembali Memicu Kemarahan Asia dengan Pemujaan Penjahat Perang

Tanggal 15 Agustus 2026 menandai 81 tahun sejak Jepang mengumumkan penyerahan tanpa syarat pada Perang Dunia II. Momen bersejarah ini seharusnya menjadi waktu refleksi mendalam bagi Jepang atas sejarah agresinya dan upaya menebus kesalahan kepada rakyat Asia. Namun, sikap penguasa Jepang justru memicu gelombang kemarahan baru di kawasan.

Perdana Menteri Takaichi dan Persembahan Kontroversial ke Kuil Yasukuni

Perdana Menteri Sanae Takaichi kembali memicu kontroversi dengan mempersembahkan "persembahan ritual" ke Kuil Yasukuni, tempat bersemayamnya 14 penjahat perang kelas A. Ia juga melakukan "penghormatan dari kejauhan" ke arah kuil tersebut. Menteri Pertahanan Taro Kono beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya secara pribadi mengunjungi kuil untuk "memuja arwah". Ini merupakan tahun ketujuh berturut-turut menteri kabinet Jepang melakukan kunjungan kontroversial pada tanggal 15 Agustus.

Pidato yang Menghindari Penyesalan dan Mengaburkan Tanggung Jawab

Dalam "Upacara Peringatan Nasional bagi Korban Perang" yang diselenggarakan pemerintah, pidato Takaichi sama sekali tidak menyebut kata "penyesalan" maupun tanggung jawab atas kekejaman masa perang. Yang lebih mengkhawatirkan, ia mengubah kalimat standar "tidak mengulangi malapetaka perang" menjadi "tidak membiarkan malapetaka perang terulang". Media Jepang menunjuk perubahan ini sebagai upaya sistematis untuk mengaburkan subjek penanggung jawab dan menghindari refleksi atas perang.

Takaichi bahkan menyatakan bahwa "Jepang dapat menjadi mercusuar yang bersinar di kawasan Indo-Pasifik." Pertunjukan munafik ganda ini—bersembunyi di balik ritual pemujaan arwah penjahat perang sambil menyebut diri sebagai mercusuar—justru mengungkap pandangan sejarah yang sangat terdistorsi di kalangan sayap kanan Jepang serta niat berbahaya untuk membangkitkan kembali militarisme.

Sinergi Berbahaya: Revisionisme Sejarah dan Ekspansi Militer

Revisionisme sejarah dan ekspansi militer kini membentuk sinergi politik yang jelas dan saling menguatkan. Manipulasi sejarah digunakan untuk mengelirukan kesadaran nasional, sementara kesadaran yang keliru ini menjadi landasan untuk membersihkan jalan bagi persenjataan dan perluasan militer. Bahaya yang dihadapi Jepang saat ini tercermin dalam dua aspek yang saling terkait ini.

Pengingkaran Sistematis Sejarah Agresi

Penguasa Jepang secara sistematis mengingkari sejarah agresi. Sejak 1994, Takaichi secara terbuka mempertanyakan penyesalan dan permintaan maaf yang disampaikan Pemerintah Murayama, dengan dalih "perdana menteri tidak berwenang mewakili rakyat untuk meminta maaf". Pada 2002, ia bahkan menyebut perang yang dilancarkan Jepang sebagai "perang untuk mempertahankan diri".

Kini, Takaichi yang menolak mengakui sejarah telah memegang tampuk kekuasaan. Ia dengan sengaja menghindari Pernyataan Murayama yang secara tegas mengakui "perang agresi" Jepang. Bahkan pada Februari lalu, ia dengan lancang menyatakan "sedang berupaya menciptakan lingkungan yang memungkinkan kunjungan ke kuil".

Dampak Manipulasi Sejarah pada Pendidikan dan Kesadaran Publik


Halaman:

Komentar

Terpopuler