Dokter Tifa menilai Jokowi sengaja memaksakan diri tampil untuk membangun citra sebagai figur yang tegar meski sedang sakit dan mendapat sorotan. "Pada dasarnya, dia memaksakan diri tampil di panggung PSI... untuk tampil sebagai 'si sakit yang terus disakiti'," lanjutnya.
Pidato dengan Pengulangan Kata Kunci
Kritik juga ditujukan pada pidato Jokowi yang disampaikan dengan suara parau. Dokter Tifa menyoroti pengulangan kata-kata tertentu. "Perhatikan kata-katanya yang diulang-ulang: 'Saya masih sanggup, saya masih sanggup, saya masih sanggup'," tulisnya.
Ia menafsirkan pengulangan itu sebagai ekspresi psikologis yang tidak sepenuhnya disadari, namun justru memicu respons sinis dari sebagian publik.
Kondisi Kesehatan sebagai Komoditas Politik?
Dokter Tifa menutup kritiknya dengan pernyataan reflektif. Ia menyebut kondisi sakit Jokowi telah menjadi bagian dari komoditas politik dan ambisi kekuasaan. "Dunia baginya seakan tak pernah cukup, dan yang membatasi tampaknya hanya mati," pungkas Dokter Tifa.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia