Efriza menjelaskan bahwa label tersebut merupakan penggambaran citra negatif yang melekat pada Jokowi dan keluarganya. Ia juga menyoroti keberanian publik yang kini tidak takut lagi untuk mengemukakan pendapat politiknya terhadap mantan presiden periode 2014-2024 itu.
Lebih lanjut, ia memperkirakan bahwa publik telah terbawa oleh berbagai isu politik bernuansa negatif yang belakangan banyak menyangkut figur Jokowi.
Mekanisme Edit Nama Lokasi di Google Maps
Perlu diketahui, kemunculan label unik seperti ini dimungkinkan oleh fitur edit lokasi yang tersedia bagi pengguna Google Maps. Meskipun setiap perubahan biasanya akan diverifikasi oleh sistem sebelum ditayangkan, tidak jarang muncul penamaan sementara akibat ulah warganet yang viral.
Fenomena "Tembok Ratapan Solo" ini menjadi contoh nyata bagaimana ruang digital, khususnya platform peta seperti Google Maps, digunakan sebagai medium untuk menyampaikan sentimen dan opini politik publik.
Artikel Terkait
Mahfud MD: Kinerja KPK Mulai Bagus, Tak Boleh Lagi Dipegang Leher
Analisis Ray Rangkuti: Peluang Sjafrie Sjamsoeddin Jadi Cawapres Prabowo 2029 Kecil, Ini Alasannya
Eggi Sudjana Dukung Habib Rizieq Bekukan TPUA, Ini Langkah Selanjutnya
Analisis Lengkap: Mengapa Banyak Tokoh Senior Berbalik Arah & Meninggalkan Dukungan ke Jokowi?