Lebih lanjut, Efriza yang juga Magister Ilmu Politik UNAS melihat fakta bahwa pribadi JK terus diusik oleh kelompok buzzer pendukung Jokowi yang kerap disebut Ternak Mulyono (Termul). Situasi ini memicu kesan bahwa JK merasa diabaikan dalam peta politik mutakhir.
"JK diperkirakan merasa diabaikan dan terkesan sedang mencari popularitas dengan mengungkap perannya. Padahal, tanpa JK, Jokowi tidak akan pernah diperhitungkan sebagai calon presiden. Megawati Soekarnoputri pun awalnya meragukan kualitas dan akseptabilitas Jokowi di tingkat nasional," bebernya.
Beban Sejarah Pribadi Jokowi
Analisis ini menyimpulkan bahwa peran krusial JK adalah sebuah kenyataan sejarah yang tidak terbantahkan. Penerimaan Jokowi sebagai capres pada masanya sangat bergantung pada peran dan legitimasi yang diberikan oleh JK.
"Tanpa JK, Jokowi hanya akan tetap menjadi politisi daerah yang tidak masuk dalam lingkaran kekuasaan nasional. Kenyataan sejarah inilah yang menjadi beban sejarah secara pribadi bagi Jokowi," tandas Efriza menutup analisisnya.
Artikel Terkait
IPW Kritik Keras Febrie Belum Ditahan, Desak Prabowo Copot Jaksa Agung ST Burhanuddin
Perubahan Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet: Ini Penjelasan Mensesneg
Prabowo Syok Temukan Kerusakan Indonesia Stadium Akibat Salah Urus, Dana Rp Ribuan Triliun Raib
Sidang Etik 6 Pimpinan KPU RI: Pelanggaran Administrasi Dokumen Pencalonan Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019