Lebih lanjut, Efriza yang juga Magister Ilmu Politik UNAS melihat fakta bahwa pribadi JK terus diusik oleh kelompok buzzer pendukung Jokowi yang kerap disebut Ternak Mulyono (Termul). Situasi ini memicu kesan bahwa JK merasa diabaikan dalam peta politik mutakhir.
"JK diperkirakan merasa diabaikan dan terkesan sedang mencari popularitas dengan mengungkap perannya. Padahal, tanpa JK, Jokowi tidak akan pernah diperhitungkan sebagai calon presiden. Megawati Soekarnoputri pun awalnya meragukan kualitas dan akseptabilitas Jokowi di tingkat nasional," bebernya.
Beban Sejarah Pribadi Jokowi
Analisis ini menyimpulkan bahwa peran krusial JK adalah sebuah kenyataan sejarah yang tidak terbantahkan. Penerimaan Jokowi sebagai capres pada masanya sangat bergantung pada peran dan legitimasi yang diberikan oleh JK.
"Tanpa JK, Jokowi hanya akan tetap menjadi politisi daerah yang tidak masuk dalam lingkaran kekuasaan nasional. Kenyataan sejarah inilah yang menjadi beban sejarah secara pribadi bagi Jokowi," tandas Efriza menutup analisisnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia