Selain BBM, Bahlil juga memastikan ketersediaan minyak mentah untuk kebutuhan pengembangan kilang nasional dalam posisi aman. "Menyangkut dengan crude kita dalam rangka pengembangan refinery, juga alhamdulillah stoknya di atas standar minimum nasional. Jadi, relatif nggak ada masalah," imbuh Bahlil.
Di hadapan Presiden, Bahlil turut melaporkan langkah strategis pemerintah mengurangi ketergantungan impor LPG, salah satunya melalui opsi pengembangan CNG (Compressed Natural Gas). "Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan. Saya harus finalisasi dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita dari sektor LPG bisa dapat kita lakukan," ungkap Bahlil.
Tak hanya fokus pada jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan strategi besar menghadapi ancaman krisis energi global melalui optimalisasi lifting migas, percepatan biodiesel B50, hingga pengembangan bioetanol E20. "Yang pertama kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi seperti B50. B50 itu kan mengurangi impor solar kita. Yang ketiga adalah kita harus dorong ke E untuk bensin, etanol. E20. Itu adalah bagian salah satu strategi," pungkasnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia