Ancaman Geopolitik Indonesia: Yusril & Pakar Bongkar Kerentanan Negara di Tengah Perebutan Pengaruh AS-China

- Minggu, 31 Mei 2026 | 13:25 WIB
Ancaman Geopolitik Indonesia: Yusril & Pakar Bongkar Kerentanan Negara di Tengah Perebutan Pengaruh AS-China



MULTAQOMEDIA.COM - Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengenai potensi Indonesia menghadapi tekanan geopolitik serupa Venezuela memicu diskusi luas di kalangan akademisi, pengamat keamanan, dan publik.

Pernyataan tersebut tidak hanya membahas ancaman perang konvensional. Di baliknya, tersimpan kekhawatiran besar tentang bagaimana Indonesia bisa menjadi arena perebutan pengaruh negara adidaya di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Yusril sebelumnya menyoroti posisi strategis Indonesia, baik dari segi geografis maupun kekayaan sumber daya alam. Menurutnya, negara-negara besar memiliki kepentingan signifikan terhadap kawasan yang kaya energi, mineral kritis, dan jalur perdagangan internasional. Ia bahkan mengingatkan bahwa jika terjadi skenario konflik besar, Indonesia dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan militer modern.

Pernyataan itu mendapat respons dari Guru Besar Hubungan Internasional ST Petersburg State University, Connie Rahakundini Bakrie, yang menilai peringatan tersebut harus dipandang sebagai alarm serius bagi para pemimpin nasional.

Connie: Ini Bukan Alarm Biasa, Melainkan Wake Up Call


Connie menegaskan bahwa dalam lanskap geopolitik dan geoekonomi dunia saat ini, kemungkinan Indonesia menghadapi tekanan seperti Venezuela tidak bisa dianggap mustahil. Menurutnya, perubahan tatanan global yang semakin kompetitif membuat negara kaya sumber daya menjadi objek perebutan kepentingan strategis.

"Ini bukan sekadar alarm, tetapi wake up call bagi para pemimpin kita," kata Connie. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari jumlah alutsista, tetapi juga kesiapan logistik, stok amunisi, kemampuan intelijen, dan dukungan masyarakat terhadap negara. Dalam pandangannya, faktor rakyat menjadi elemen yang sangat menentukan ketika sebuah negara menghadapi tekanan eksternal.

"Apakah TNI siap atau tidak, itu penting. Tapi yang juga penting adalah apakah rakyat Indonesia siap dan memiliki kedekatan dengan pemerintah. Itu faktor utama dalam menjaga negara," ujarnya.

Soroti Kelemahan Pertahanan dan Logistik


Connie menilai Indonesia telah melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih ada sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan. Salah satunya adalah persoalan stok amunisi dan logistik pertahanan yang dinilai masih terbatas jika harus menghadapi situasi darurat jangka panjang. Selain itu, sebagian alutsista masih membutuhkan perawatan berat (heavy maintenance), sehingga berpotensi mengurangi kesiapan operasional saat krisis.

Menurut Connie, tantangan lainnya adalah komposisi anggaran pertahanan yang masih didominasi belanja personel. Ia menyebut sebagian besar anggaran pertahanan masih terserap untuk kebutuhan sumber daya manusia dibandingkan penguatan teknologi dan sistem pertahanan masa depan. "Kalau kita bicara tantangan masa depan, ini menjadi persoalan yang harus diperhatikan," ujarnya.

Jalur Strategis Indonesia Jadi Rebutan Dunia


Connie juga menyoroti posisi Indonesia yang berada di jalur laut paling strategis di dunia. Indonesia menguasai Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II, dan III, yang menjadi bagian penting dari lalu lintas perdagangan global. Selain itu, keberadaan Selat Malaka membuat Indonesia memiliki posisi sangat penting dalam sistem perdagangan internasional.

Menurut Connie, dokumen strategis pertahanan Amerika Serikat beberapa tahun terakhir menunjukkan perhatian besar terhadap penguasaan jalur komunikasi laut global (sea lines of communication). Karena itu, kemampuan early warning system, pengawasan wilayah, dan integrasi intelijen nasional menjadi sangat krusial. "Intelijen adalah mata negara. Pertanyaannya, apakah data-data yang kita miliki sudah benar-benar terintegrasi?" katanya. Ia menilai Indonesia masih memiliki ruang besar untuk memperkuat koordinasi antar lembaga intelijen demi menghadapi ancaman modern yang semakin kompleks.

Ancaman Terbesar Bukan Invasi, Tapi Perebutan Pengaruh


Sementara itu, pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho memiliki pandangan sedikit berbeda. Menurutnya, peringatan Yusril harus dilihat dalam kerangka realisme geopolitik, bukan sebagai prediksi bahwa Indonesia akan mengalami invasi militer langsung. "Saya tidak melihat Indonesia akan diinvasi," ujarnya.

Namun, ia menilai Indonesia berpotensi menjadi medan perebutan pengaruh antara dua kekuatan terbesar dunia saat ini, yakni Amerika Serikat dan China. Dalam kompetisi global yang berlangsung tanpa perang terbuka, kedua negara membutuhkan akses terhadap wilayah-wilayah strategis yang dapat memperkuat posisi mereka. Indonesia dinilai menjadi salah satu aset paling berharga dalam persaingan tersebut.

Indonesia Adalah Prize di Indo-Pasifik


Wibawanto menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia menjadikannya sangat penting bagi kepentingan geopolitik dunia. Selain memiliki jalur laut dan udara strategis, Indonesia juga kaya akan sumber daya energi dan mineral yang sangat dibutuhkan industri modern. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Kondisi itu membuat Indonesia berstatus sebagai swing state, yaitu negara yang memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan kekuatan regional. "Siapa yang memenangkan pengaruh di Indonesia akan memiliki peluang lebih besar memenangkan persaingan di Indo-Pasifik," katanya.

Diplomasi Seimbang Jadi Kunci


Menghadapi situasi tersebut, Wibawanto menilai Indonesia harus mempertahankan politik luar negeri yang seimbang dan tidak berpihak pada salah satu blok kekuatan. Ia menyebut pendekatan equidistant diplomacy, omni diplomacy, atau multidirectional diplomacy sebagai strategi yang paling tepat. Melalui pendekatan itu, Indonesia tetap menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat, China, Rusia, maupun kekuatan besar lainnya tanpa kehilangan independensi.

Namun, strategi tersebut hanya akan berhasil jika ditopang oleh fondasi domestik yang kuat. Menurutnya, terdapat tiga syarat utama agar Indonesia mampu menjaga kedaulatan di tengah kompetisi global. Pertama, negara harus memiliki pemahaman jelas mengenai kepentingan nasional inti (core national interest). Kedua, pemerintah harus membangun kepercayaan publik serta menjaga kekompakan nasional. Ketiga, Indonesia harus memiliki strategic autonomy, yakni kemampuan bermanuver secara independen di panggung internasional tanpa tekanan dari pihak mana pun.

Tantangan Besar Indonesia di Tengah Persaingan Global


Peringatan yang disampaikan Yusril dan analisis para pakar menunjukkan bahwa tantangan Indonesia di masa depan tidak hanya berasal dari ancaman militer konvensional. Persaingan ekonomi, pengaruh politik, perang informasi, keamanan siber, hingga perebutan akses terhadap sumber daya strategis diperkirakan akan menjadi medan kompetisi utama abad ke-21. Dengan posisi geografis yang sangat strategis dan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam tatanan dunia baru. Namun di saat yang sama, posisi tersebut juga menempatkan Indonesia di tengah pusaran kepentingan berbagai kekuatan global yang terus berebut pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.

Komentar