“Termasuk peningkatan risiko penggunaan bahan bakar substitusi seperti BBM yang berdampak pada lonjakan biaya pembangkitan listrik nasional,” kata Jefferson.
SEI menegaskan bahwa gangguan listrik yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari tersendatnya pasokan batu bara di sektor hulu. Hal ini membantah klaim pemerintah yang menyebut gangguan tersebut murni masalah teknis operasional.
Dengan demikian, SEI menilai akar permasalahan utama terletak pada ketidakpastian dan perubahan kebijakan RKAB di sektor batu bara di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia. Kebijakan yang tidak konsisten ini secara langsung merembet dan mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional.
“Tanpa kepastian kebijakan yang konsisten di sektor hulu, maka stabilitas listrik nasional akan terus berada dalam tekanan dan berisiko mengalami gangguan berulang di masa mendatang,” pungkas Jefferson.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia