"Kalau Gibran memang tidak berjodoh berduet kembali dengan Prabowo Subianto, tentu peran politiknya harus berani. Gibran harus maju di 2029 sebagai calon presiden, meskipun harus head to head dan berkompetisi dengan Prabowo," tegasnya.
Adi menegaskan bahwa persaingan antara tokoh yang sebelumnya berada dalam satu pemerintahan merupakan hal lumrah dalam demokrasi. Ia mencontohkan kontestasi politik antara Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla sebagai referensi.
"Karena dalam politik adalah hal yang lumrah. Hari ini teman, besok berkompetisi. Itu pernah terjadi dengan Pak Jusuf Kalla. Tahun 2004 SBY-JK menjadi pasangan presiden dan wakil presiden. Tapi pada 2009 SBY maju, JK juga maju, saling berhadapan satu sama lain," jelasnya.
Menurut Adi, pengalaman tersebut membuktikan bahwa hubungan politik dalam satu koalisi tidak selalu berakhir dengan pasangan yang sama pada pemilu berikutnya. Oleh karena itu, kemungkinan Gibran maju sebagai calon presiden dan berhadapan langsung dengan Prabowo pada Pilpres 2029 merupakan skenario yang sah dalam dinamika politik nasional.
Artikel Terkait
JPU Masukkan Diskusi TV ke Dakwaan Dokter Tifa, Aktivis: Media dan Narasumber Terintimidasi
Safari Politik Jokowi ke Jawa Tengah: PDIP Murka PSI Ingin Ganti Kandang Banteng
DPR Soroti Tambang Ilegal Tanpa AMDAL: Dugaan Perampasan Hak Masyarakat Adat dan Lemahnya Perlindungan Negara
Jokowi Sengaja Ciptakan Adegan Injak Kepala Kerbau Demi Publisitas, Klaim PDIP