Mahfud menambahkan bahwa menyebut jurnalis, LSM, dan pengamat sebagai londo ireng sangat menyakitkan. Sebab, istilah tersebut dalam sejarah merujuk pada pengkhianatan terhadap perjuangan bangsa.
Sejarah Istilah Londo Ireng
Mahfud menjelaskan bahwa istilah londo ireng mulai dikenal pada masa Perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun. Karena kesulitan mengalahkan pasukan Diponegoro, Belanda mendatangkan tentara dari Minahasa bernama Benjamin Thomas Sigar.
"Kerugian Belanda sangat besar sehingga didatangkan Benjamin Sigar di situ, nah di situlah orang Jawa itu menyebut londo ireng, meskipun kulitnya putih tetap disebut londo ireng. Benjamin ini sesudah pulang kan naik pangkat," jelas Mahfud.
Oleh karena itu, Mahfud menekankan bahwa istilah londo ireng merujuk pada tindakan pengkhianatan, bukan pada kritik yang sehat.
Kritik Bukan Bentuk Pengkhianatan
Mahfud menegaskan bahwa pihak-pihak yang menyampaikan kritik tidak pernah berhubungan dengan pihak asing. Justru, pemerintah yang dinilainya memiliki hubungan dengan pihak asing.
"Itu kan kaitannya londo ireng itu antek asing karena anteknya Belanda kan, kalau sekarang konteksnya antek asing, sementara kita ini yang kritik-kritik tidak pernah berhubungan dengan (antek) asing, yang berhubungan dengan asing kan pemerintah," ujarnya.
Mahfud juga menyampaikan bahwa para pengkritik adalah orang-orang yang mencintai bangsa dan berupaya meluruskan keadaan dengan memberikan solusi, bukan sekadar mengkritik tanpa arah.
"Kalau kita selalu memberi solusi, masa disebut londo ireng. Kalau londo ireng itu tugasnya menumpas gerakan kemerdekaan," tutup Mahfud.
Artikel Terkait
Purbaya Yudhi Sadewa Kandidat Kuat Gubernur BI Pengganti Perry Warjiyo
PDIP Santai Tanggapi Kaesang Maju Caleg 2029, Hasto: Politik Bukan Sekadar Jabatan
PGR Jadikan Anies Komoditas Politik untuk Pilpres 2029, Pengamat Sebut Berisiko
Habib Rizieq Kecam Mahfud MD: Bubarkan FPI Kini Sesali Hilangnya Amar Maruf Nahi Mungkar