Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS: Penyebab, Dampak, dan Prediksi Pelemahan Selanjutnya

- Kamis, 04 Juni 2026 | 02:50 WIB
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS: Penyebab, Dampak, dan Prediksi Pelemahan Selanjutnya

Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ekonomi Indonesia

Selain memperkuat dolar AS, konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dolar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,60 dolar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak ini menjadi sentimen negatif bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor energi, Indonesia harus membayar impor tersebut menggunakan dolar AS. Semakin mahal harga minyak, semakin besar pula kebutuhan dolar AS yang harus dikeluarkan.

"Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang membebani perekonomian Indonesia," tambah Ariston.

Prediksi dan Solusi Penguatan Rupiah

Ariston Tjendra memperkirakan bahwa rupiah masih berpotensi bergerak melemah selama situasi di Timur Tengah masih bergejolak. Namun, ia juga optimis bahwa rupiah bisa kembali menguat asalkan konflik antara AS dan Iran segera menemukan titik terang.

"Kuncinya ada di perdamaian AS-Iran untuk memicu pelemahan dolar AS," jelasnya.

Setelah konflik Timur Tengah mereda, pemerintah Indonesia diharapkan dapat membereskan sentimen negatif seputar kebijakan ekonomi untuk mendorong penguatan rupiah secara lebih fundamental.

Kesimpulan

Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 18.000 per dolar AS merupakan fenomena yang dipicu oleh faktor eksternal, terutama konflik geopolitik di Timur Tengah. Investor global yang berlindung ke dolar AS sebagai safe haven menjadi penyebab utama penguatan dolar dan pelemahan rupiah. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga memberikan tekanan tambahan pada perekonomian Indonesia. Solusi jangka pendek untuk penguatan rupiah sangat bergantung pada resolusi konflik AS-Iran, sementara kebijakan ekonomi domestik akan menjadi kunci penguatan jangka panjang.


Halaman:

Komentar