Lebih lanjut, Díaz-Canel menegaskan penolakan Kuba terhadap Doktrin Monroe dan segala bentuk kekuasaan asing di atas kedaulatan bangsa-bangsa Amerika Latin. Ia juga menyatakan kesiapan rakyat Kuba untuk berdiri bersama Venezuela.
“Demi Venezuela, dan juga demi Kuba, kami siap memberikan darah kami, bahkan nyawa kami. Kami tidak akan mundur. Sekarang bukan waktunya setengah-setengah, ini adalah waktu kepastian dan memilih pihak dalam menghadapi fasisme dan kebiadaban imperial,” kata Presiden Kuba itu dengan penuh semangat.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat kala itu, Donald Trump, dalam pengarahan di Mar-a-Lago mengenai operasi di Venezuela, menyatakan keinginannya untuk membantu rakyat Kuba. Trump mengaitkan kondisi di Kuba dengan situasi di Venezuela, namun menegaskan bahwa ia belum mempertimbangkan opsi tindakan militer terhadap Kuba.
Pernyataan dari kedua pemimpin dunia ini semakin memanaskan ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin, menyoroti perebutan pengaruh dan prinsip kedaulatan negara.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu