Dampak Perang AS vs Iran: Mengapa Negara Timur Tengah Khawatir dan Risikonya

- Minggu, 25 Januari 2026 | 13:50 WIB
Dampak Perang AS vs Iran: Mengapa Negara Timur Tengah Khawatir dan Risikonya

"Sejak AS mencabut banyak pembatasan terhadap Israel, para pemain regional mulai melihat kebijakan luar negeri Israel yang agresif sebagai ancaman langsung yang tak terkendali," jelas Trita Parsi dari Institut Quincy.

Dalam konteks ini, kekacauan di Iran—atau munculnya rezim boneka pro-Israel di Teheran—akan menjadi pukulan berat bagi upaya menyeimbangkan kekuatan melawan sikap agresif Israel.

Peran Diplomasi Negara-Negara Teluk dalam Mencegah Eskalasi

Di antara aktor regional yang berusaha mencegah serangan AS, negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Oman, Qatar, dan Arab Saudi, bersama Turki, memainkan peran diplomatik krusial. Mereka membujuk pemerintahan Trump untuk mencari jalan diplomatik daripada konfrontasi militer.

Melalui dialog tingkat tinggi, pemerintah-pemerintah ini memperingatkan Washington bahwa serangan dapat memicu ketidakstabilan meluas. Mereka menawarkan "jalan yang menyelamatkan muka" sekaligus bertindak sebagai saluran vital antara Washington dan Teheran.

"Pengaruh mereka berasal dari tiga aset: kendali atas pangkalan militer dan logistik; kredibilitas sebagai perantara; serta kepentingan bersama untuk menghindari perang regional yang akan mengguncang pasar energi," ujar Andreas Krieg, profesor dari King's College London.

Kesimpulan: Eskalasi Militer vs. Pengekangan Diplomatik

Pada intinya, prospek perang AS-Iran menyoroti kekhawatiran regional yang kompleks. Sebagian besar negara Asia Barat memandang eskalasi militer sebagai pertaruhan berisiko tinggi yang dapat mendestabilisasi kawasan selama bertahun-tahun.

Dampak sekunder seperti krisis pengungsi, gangguan ekonomi, dan bangkitnya aktor radikal, dinilai jauh lebih berbahaya daripada tantangan dari Iran yang terkendali. Pelajaran dari kegagalan intervensi militer AS di Irak, Afghanistan, dan Libya telah memperdalam kehati-hatian ini.

Diplomasi, keterlibatan terukur, dan konsultasi regional muncul bukan hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai instrumen penting untuk menjaga keseimbangan rapuh di lanskap geopolitik Timur Tengah.


Halaman:

Komentar