Saif al-Islam merupakan tokoh politik kunci pasca-runtuhnya rezim ayahnya pada 2011. Sebelumnya, ia dikenal sebagai wajah reformis Libya di mata Barat. Berpendidikan di London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris, ia sering menjadi mediator dalam misi diplomatik penting, termasuk perundingan kompensasi untuk korban pengeboman Lockerbie.
Masa Penahanan dan Ambisi Presiden
Setelah revolusi 2011, Saif al-Islam ditangkap dan ditahan selama enam tahun di Zintan. Pada 2015, pengadilan di Tripoli menjatuhkan hukuman mati in absentia atas dirinya terkait kejahatan perang. Ia dibebaskan pada 2017 berdasarkan amnesti.
Pada 2021, ia mengejutkan publik dengan muncul di Sabha untuk mendaftar sebagai calon presiden. Pencalonannya memicu kontroversi dan menjadi salah satu pemicu kebuntuan politik Libya, yang akhirnya menggagalkan proses pemilihan.
Warisan dan Akhir Hidup yang Tragis
Kematian Saif al-Islam Gaddafi menutup babak penting dari dinasti Gaddafi di Libya. Dari kehidupan mewah sebagai putra pemimpin, melalui masa penahanan yang keras, hingga ambisi untuk kembali berkuasa, hidupnya mencerminkan gejolak politik Libya selama lebih dari satu dekade terakhir. Ia meninggalkan warisan sebagai figur yang sangat divisif; bagi sebagian orang ia adalah simbol stabilitas masa lalu, sementara bagi yang lain ia mewakili rezim otoriter yang telah digulingkan.
Artikel Terkait
Jeffrey Epstein dan Putin: Fakta Upaya Dekati Kremlin Terungkap dalam Dokumen Rahasia
Dokumen Epstein Dirilis: Ungkap Kunjungan ke Bali dan Tuduhan ke Donald Trump
Berkas Epstein Dibuka: Fakta Memo FBI Klaim Trump Dikendalikan Israel
Dokumen Epstein Bocor: Pengusaha UEA Kirim 3 Potong Kain Kabah ke Jeffrey Epstein