Israel juga dilaporkan memulai kembali proses pendaftaran tanah di Tepi Barat. Langkah ini memungkinkan pencatatan tanah sebagai "milik negara" untuk pertama kali sejak 1967.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengecam kebijakan ini. Ia memperingatkan bahwa tindakan tersebut mempercepat pengambilalihan wilayah Palestina dan merusak prospek perdamaian.
Raja Abdullah II dari Yordania juga menyuarakan peringatan serupa. Ia menyatakan bahwa langkah Israel membatasi akses jelang Ramadan dan memperluas kendali tanah berpotensi memicu ketegangan regional yang lebih luas.
Kesiapan Militer Israel dan Dampak terhadap Pekerja
Menyambut Ramadan 2026, Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letjen Eyal Zamir, menyatakan tahun ini sebagai "tahun keputusan". Israel menyiapkan operasi multi-arena yang mencakup Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Suriah, dan Iran.
Sementara itu, sekitar 140.000 pekerja Palestina dilarang masuk Israel sejak perang di Gaza. Pembatasan ini dikhawatirkan oleh pejabat keamanan Israel justru dapat meningkatkan ketidakstabilan.
Seruan untuk Tindakan Internasional
Pemimpin Palestina menyerukan tindakan tegas dari dunia internasional. Mereka mendesak agar hak beribadah dihormati dan status hukum situs suci Al-Aqsa dijaga. Situasi terkini menjadi ujian bagi stabilitas kawasan dan mendesak kebutuhan diplomasi intensif untuk mencegah eskalasi lebih jauh.
Dengan Ramadan di depan mata, kombinasi penahanan tokoh agama, pembatasan ibadah, operasi militer, dan pengendalian tanah berpotensi memicu gelombang ketegangan baru di jantung konflik Israel-Palestina.
Artikel Terkait
Kongres AS Selidiki Kematian Misterius 11 Ilmuwan: Pentagon, FBI, NASA Diminta Klarifikasi
Iran Tolak Perundingan Damai dengan AS: Penyebab, Ancaman Trump & Dampaknya
Trump Tolak Cabut Blokade Pelabuhan Iran: Syarat & Dampak Terkini 2026
Peringatan Gempa M8+ di Jepang: Waspada Tsunami di 182 Kota Pasca Gempa M7.4