Pernyataan Trump langsung dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz belum dapat dikatakan benar-benar terbuka selama tekanan dan blokade dari AS masih terus berlangsung.
Kondisi di Lapangan Belum Sepenuhnya Stabil
Data pelacakan kapal menunjukkan situasi yang belum normal. Sejumlah kapal tanker dilaporkan sempat mencoba keluar dari selat, namun harus berbalik arah karena belum memperoleh izin resmi untuk melintas. Fakta ini mengindikasikan bahwa pembukaan jalur masih bersifat terbatas dan selektif.
Kebijakan Selektif dan Ancaman Penutupan Kembali
Media Iran yang berafiliasi dengan Garda Revolusi menyebut kebijakan ini bersifat selektif. Kapal komersial diwajibkan berkoordinasi penuh, sementara kapal dari negara yang dianggap bermusuhan berpotensi besar untuk ditolak. Iran juga mengisyaratkan kemungkinan menutup kembali selat jika tekanan militer dari AS terus berlanjut.
Latar Belakang Gencatan Senjata dan Kebuntuan Diplomasi
Kebijakan ini muncul di tengah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon. Konflik Israel dan Hizbullah, yang merupakan sekutu dekat Iran, menjadi pemicu utama ketegangan di kawasan. Sementara itu, upaya diplomasi antara AS dan Iran masih mengalami kebuntuan, setelah perundingan sebelumnya gagal mencapai kesepakatan yang permanen.
Artikel Terkait
Blokade AS di Selat Hormuz Paksa 21 Kapal Putar Balik: Dampak Harga Minyak & Krisis Global
AS Perluas Operasi: Buru Kapal Tanker Iran di Seluruh Perairan Internasional, Termasuk Pasifik
Iran Targetkan Rp250 Triliun dari Tarif Tol Selat Hormuz: Rencana, Tantangan, Respons AS
Israel Serang 11 Kota Lebanon Sebelum Gencatan Senjata, Hizbullah Balas: Analisis Lengkap 2026