Arab Saudi Tolak Izin Pangkalan Udara untuk AS, Project Freedom di Selat Hormuz Terhenti

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:00 WIB
Arab Saudi Tolak Izin Pangkalan Udara untuk AS, Project Freedom di Selat Hormuz Terhenti









MULTAQOMEDIA.COM - Arab Saudi secara resmi menolak izin bagi militer Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pangkalan udara dan wilayah udaranya dalam mendukung Project Freedom. Ini adalah operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz yang diprakarsai oleh Presiden Donald Trump.



Keputusan Riyadh ini dipicu oleh kekhawatiran serius bahwa manuver militer AS justru akan memicu serangan balasan Iran terhadap infrastruktur negara-negara Teluk. Situasi ini berpotensi memicu konflik bersenjata yang lebih luas di kawasan.



Pejabat Saudi dilaporkan marah atas pengumuman mendadak Presiden Trump terkait operasi tersebut. Sebagai bentuk protes dan langkah perlindungan diri, Kerajaan Arab Saudi memberitahu AS bahwa mereka tidak mengizinkan jet tempur atau pesawat pendukung AS beroperasi dari Pangkalan Udara Prince Sultan, yang terletak di tenggara Riyadh.



"Cara Project Freedom dijalankan sangat berisiko dan dapat menyebabkan eskalasi. Negara-negara Teluk bisa menjadi korban serangan besar," ujar seorang pejabat Timur Tengah seperti dilansir NBC News.



Hanya 36 jam setelah operasi diumumkan melalui media sosial, Trump akhirnya menghentikan sementara misi tersebut. Kuwait juga mengambil langkah serupa dengan mencabut hak penggunaan pangkalan dan wilayah udaranya bagi AS hingga kebijakan tersebut dibatalkan.



Kondisi di Selat Hormuz saat ini dilaporkan sangat genting. Berdasarkan data dari S&P dan Bloomberg, tidak ada lalu lintas kapal yang teramati selama tiga hari berturut-turut di jalur tersebut. Padahal, sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia bergantung pada selat strategis ini.



Iran saat ini memblokade total akses selat. Kapal-kapal komersial berada dalam situasi ketidakpastian meskipun gencatan senjata telah dideklarasikan pada 8 April lalu.



Berbeda dengan tetangganya, Arab Saudi memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk menolak keinginan AS. Riyadh memiliki pipa minyak East-West sepanjang 750 mil yang membentang dari Teluk Persia ke Laut Merah. Jalur pipa ini memungkinkan Saudi mengekspor jutaan galon minyak setiap hari tanpa harus melewati Selat Hormuz yang berbahaya. Ini memberi keuntungan taktis bagi Kerajaan jika selat tersebut tetap ditutup atau terlalu berisiko untuk dilintasi.



Sejauh ini, Gedung Putih belum bisa memastikan kapan atau apakah Project Freedom akan dilanjutkan. Fokus utama saat ini beralih ke meja perundingan, disertai gertakan yang disampaikan oleh Trump kepada Iran agar mau meneken kesepakatan. Namun, gertakan Trump tidak cukup kuat untuk meyakinkan sekutu dekatnya di Teluk.



Sementara itu, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, baru saja bertemu dengan pemimpin Iran dan mendesak penghentian perang segera.

Komentar