Serangan Iran juga menghantam Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait. Analisis citra satelit menunjukkan hancurnya bunker penyimpanan bahan bakar, hanggar pesawat, serta fasilitas akomodasi pasukan.
Di Camp Arifjan, perusahaan intelijen pertahanan Janes mengidentifikasi kerusakan luas pada perangkat komunikasi satelit militer.
Besarnya kerugian yang dialami AS masih sulit dihitung secara pasti. Namun, Pentagon pada Mei lalu memperkirakan biaya Operasi Epic Fury telah mencapai 29 miliar dolar AS. Sebagian besar anggaran tersebut diperkirakan akan digunakan untuk memperbaiki atau mengganti peralatan yang rusak akibat konflik.
Laporan itu juga menyebut sedikitnya 42 pesawat militer AS mengalami kerusakan atau hancur sejak Februari. Di antaranya pesawat tempur F-15 dan F-35, 24 drone MQ-9 Reaper, serta pesawat serang A-10.
Berbeda dengan persenjataan mahal yang digunakan militer AS, Iran dilaporkan mengandalkan drone murah yang dapat diproduksi dan diganti dengan cepat.
Strategi Iran: Dari Serangan Massal ke Serangan Presisi Tinggi
Para pakar menilai strategi Iran berkembang sepanjang konflik berlangsung. Jika pada tahap awal Teheran meluncurkan serangan massal untuk membanjiri sistem pertahanan udara lawan, beberapa hari kemudian taktik tersebut berubah menjadi serangan yang lebih terarah dan presisi terhadap sasaran bernilai tinggi.
Meski demikian, sejumlah klaim mengenai tingkat kerusakan yang dialami fasilitas militer AS masih belum dapat diverifikasi sepenuhnya secara independen. Pentagon hingga kini belum merilis rincian lengkap mengenai seluruh pangkalan yang terdampak maupun jumlah pasti kerugian akibat serangan Iran.
Analis Stimson Center, Kelly Grieco, mengatakan gelombang serangan awal Iran dirancang untuk melumpuhkan pertahanan udara melalui jumlah rudal dan drone yang sangat besar.
"Namun dalam hitungan hari, Iran beralih ke serangan yang lebih kecil tetapi jauh lebih presisi. Mereka menghemat persediaan rudal dan drone untuk menghantam target-target bernilai tinggi, di mana bahkan ledakan yang meleset sedikit pun tetap dapat menimbulkan kerusakan besar," ujarnya.
Analis dari MAIAR menilai militer AS sempat menunjukkan sikap terlalu percaya diri pada fase awal perang. Menurut mereka, Washington gagal memindahkan sejumlah pesawat dari jangkauan rudal dan drone Iran meskipun pola serangan Teheran terus berkembang.
Khamenei menegaskan negara-negara di kawasan tidak akan lagi menjadi perisai bagi pangkalan militer Amerika.
"Pangkalan-pangkalan Amerika tidak lagi aman. Hari demi hari, posisi mereka di kawasan akan semakin melemah," katanya.
Pernyataan tersebut muncul ketika gencatan senjata antara AS dan Iran kembali berada dalam kondisi rapuh. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis lalu mengumumkan telah menyerang salah satu pangkalan Amerika di kawasan sebagai balasan atas serangan baru AS di Iran selatan.
Grieco memperingatkan bahwa jika gencatan senjata runtuh dan perang kembali pecah, pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk berpotensi menghadapi ancaman yang lebih besar.
Menurut dia, konflik selama beberapa bulan terakhir telah menguras stok sistem pertahanan udara milik AS dan negara-negara sekutunya dalam jumlah besar.
"Tidak ada cara cepat untuk mengganti persediaan tersebut. Jika Iran kembali melancarkan serangan besar, jumlah rudal pencegat yang tersedia akan jauh lebih sedikit dibandingkan saat konflik dimulai," ujarnya.
Artikel Terkait
Trump Murka pada Netanyahu: Ancaman Penjara dan Kritik Pedas soal Perang Lebanon
Media Singapura Sebut Jakarta Mirip Gotham City, Tapi Turis Tetap Berburu Belanja Murah Gegara Rupiah Anjlok
Media Malaysia Soroti Rencana Indonesia Beli Kapal Perusak Turki: Langkah Menuju Dominasi Maritim
Iran Berhasil Tembak Jatuh Jet Tempur F-15E AS dengan Rudal China, Dua Pilot Selamat