Media Singapura Sebut Jakarta Mirip Gotham City, Tapi Turis Tetap Berburu Belanja Murah Gegara Rupiah Anjlok

- Selasa, 02 Juni 2026 | 04:25 WIB
Media Singapura Sebut Jakarta Mirip Gotham City, Tapi Turis Tetap Berburu Belanja Murah Gegara Rupiah Anjlok

Hotel tempat Noraini dan saudara-saudaranya menginap di kawasan Menteng berada dalam jarak berjalan kaki dari beberapa pusat perbelanjaan besar di Jakarta Pusat. Beberapa minggu sebelumnya, tepatnya pada 8 Mei, seorang warga negara Polandia menjadi korban penjambretan oleh pengendara motor di Kebon Sirih, Menteng. Pada 14 Mei, seorang turis asal Italia kehilangan telepon genggamnya yang dirampas pengendara motor di dekat Bundaran Hotel Indonesia (HI), Menteng.

Meski berbagai kasus kejahatan terjadi di Menteng, Noraini dan rombongannya tidak merasa khawatir. “Tentu saja ketika video seperti itu viral, orang-orang akan membicarakannya. Tapi sejujurnya, kami hanya berusaha berhati-hati seperti saat berada di Singapura atau kota besar lainnya,” kata Noraini yang bekerja di sektor kesehatan. “Jangan berdiri terlalu dekat ke jalan sambil memegang ponsel, jangan membiarkan tas terbuka. Hal-hal dasar seperti itu,” tambahnya.

Agenda mereka mencakup berburu busana muslim murah di Thamrin City, melihat-lihat merek lokal populer seperti Buttonscarves di mal-mal besar, hingga wisata kuliner di kawasan Blok M. Mereka juga memanfaatkan jatah bagasi 30 kilogram untuk membawa pulang oleh-oleh seperti kue lapis dan camilan khas Indonesia. Noraini menilai nilai tukar yang menguntungkan membuat perjalanan belanja ke Jakarta tahun ini terasa lebih menarik.

Pandangan serupa disampaikan Marcus Tan (38) yang singgah di Jakarta selama tiga hari setelah berlibur di Nusa Tenggara Timur. “Seratus dolar Singapura terasa sangat bernilai di sini. Saya bisa membeli lebih banyak barang, makan lebih banyak, dan tetap merasa mengeluarkan uang lebih sedikit dibandingkan jika melakukannya di Singapura,” ujarnya. Saat ini, nilai tukar dolar Singapura berada di kisaran Rp13.800, mendekati rekor tertinggi terhadap rupiah. “Bahkan untuk merek yang juga tersedia di Singapura, kadang tetap lebih murah di sini setelah dikonversi ke dolar Singapura,” tambah Tan.

Sementara itu, Nur Syarifah (29) yang berkunjung ke Jakarta bersama lima teman dan seorang balita berusia tiga tahun mengaku tetap nyaman datang ke ibu kota. Mereka mengisi perjalanan dengan mengunjungi restoran viral dan kafe populer di TikTok yang tersebar di Kemang dan SCBD. “Kami tidak akan datang jika benar-benar merasa tempat ini berbahaya, apalagi ada balita dalam rombongan. Dibandingkan beberapa kota di Eropa yang terkenal dengan kasus pencopetan, Jakarta masih terasa cukup aman bagi kami,” ujar Syarifah.

Singapura merupakan penyumbang wisatawan terbesar kedua ke Indonesia setelah Malaysia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lebih dari 320.000 wisatawan Singapura berkunjung ke Indonesia pada kuartal pertama 2026. Meski demikian, wisatawan Singapura mengakui bahwa berbagai insiden kejahatan membuat mereka lebih waspada saat berada di ruang publik. “Tentu saja kita tetap harus siaga,” kata Syarifah. “Tapi kami tidak merasa tidak aman saat berjalan-jalan di mal atau kawasan kafe di sini. Sejujurnya, kemacetan lalu lintas masih lebih membuat stres dibandingkan kejahatan.”


Halaman:

Komentar